Cari Blog Ini

Selasa, Juni 30

Balita Nonton Transformers?



Mungkin kalo ngeliat miniatur robot2 kaya di gambar, pikiran langsung ke anak2 yang memang suka sekali dengan permainan robot2an. Zaman2nya aku kecil juga suka banget liat film robot2 seperti Ksatria Baja Hitam, Ultra Man, dan tokoh2 hero lainnya yang selalu berhasil mengalahkan musuh2nya monster2 yang menyeramkan. Tapi robot2 di gambar adalah robot2 yang ada di film Transformers 2. Rasanya gak pantas kalo orang tua mengajak anak2nya apalagi yang masih balita untuk menonton film yang pada tayangan awal aja udah diwarning kalo film tersebut buat remaja.




Kemarin malam, bareng Ozi, Andra dan Rony, kami berempat nonton film Transformers di 21 Binjai Supermall. Kami pilih nonton jam 9, biar lebih nyantai. Studio nyaris penuh, tinggal 2 baris bangku depan aja. Awalnya aku pikir yang nonton bakalan banyak remaja, mereka2 yang suka maen game online, ternyata aku salah. Ada beberapa keluarga yg justru nonton bawa anak2 balita. Filmnya sendiri memang didominasi dengan aksi2 robot yang berperang, tapi tetap aja karena namanya film remaja, adegan seperti kissing ada di film tersebut. Selain itu ada adegan dimana seoarang pria melepaskan celananya dan hanya mengenakan celana dalam. Penonton tertawa menganggap lucu, tapi buat anak2kan lain lagi. Mereka mungkin dapat hal baru bahwa melalukan perbuatan tidak sopan (buka celana di depan umum) itu sah2 saja. Nah lo?

Maunya dari manajemen ada sensor penonton juga, soalnya kalo mengharapkan kebijakan orang tua yang seharusnya melindungi anak2nya dari tontonan gak mendidik rada susah. Buktinya ya itu, nonton jam 9 dan baru keluar jam 11 lewat..hmmm... gak pantas dan memang bukan waktunya anak2, tapi tetap aja ada orangtua yang bawa anak2 kecil buat ikutan nonton.

Rabu, Juni 24

Nobar KCB



Senin kemarin akhirnya jadi juga nonton KCB, barengan sama teman2 ex SD dulu. Gak begitu ramai, kita cuma berempat. Aku, Nora, Liza (Huehehehe... Ada 2 Liza) dan Nana. yang terakhir, dia temannya Nora jadi baru kenalan kemarin juga.

Setelah menonton, kecewa banget!! Kenapa? Ya.. Karena gak tuntas, KCB bersambung, dan penonton dibuat penasaran (kecuali bagi yg sudah membaca bukunya, like me). Sebenarnya mengenai KCB yang bersambung udah dapat bocoran dari Yulia, teman kantor. Tapi menurutnya gak salah kalau di tonton karena gak begitu jelek.

Lumayanlah....


Menonton Filmnya membangkitkan kembali memoriku tentang kisah Azzam versi novelnya. Sepertinya penulis skenario benar2 telah berusaha memuat semua kejadian/dialog yang ada di novel, meski tidak semua. Tentang Wail si penjahat (misalnya) yang kedapatan bersama teman satu flat dgn Azzam, menarik karena ikut juga disisipi. Hanya saja di novel, Azzam menolak kehadiran wail dengan menggunakan bahasa jawa saat berbicara dengan teman satu flatnya, nah di film itu dilakukan dengan bahasa Indonesia.

Di Film, Azzam adalah Azzam. Beda dengan novelnya, Azzam adalah nama yang hanya dikenal segelintir orang saja karena orang2 lebih mengenalnya dengan panggilan Irul atau Khairul, atau mas Insinyur. Mungkin bakal ribet kalau di film juga mengikuti tradisi nama irul buat Azzam, karena akan banyak sekali nama yang nyangkut ke pemeran utamanya tersebut (selain nama Abdullah saat Azzam mengenalkan dirinya ke Anna). Lagipula tidak semua penonton juga pembaca novel, sehingga alasan kenapa di panggil Irul atau mas insinyur dianggap tidak akan berpengaruh pada filmya.

Hal menarik lainnya yang memang secara pribadi bikin aku memberi label puas untuk film ini karena dialog yang digunakan. Azzam dan teman2nya akan menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan sesamanya, dan akan menggunakan bahasa Arab jika berbicara dengan pemeran yg bukan orang Indonesia. Sekedar perbandingan pada novel pertama kang Abik yang difilmkan juga, agak ganjil ketika ternyata orang mesir ngomong pake bahasa Indonesia :D di film Ayat2 Cinta.

Ada lebih banyak tokoh di KCB I, tapi sutradara tidak menyensor satu tokoh yang mungkin bisa berpengaruh pada hasil film. Azzam dan teman2nya lengkap, Azzam dan saudara2nya juga lengkap. Begitu juga Anna, Furqan, dan lain2. Ingat dengan Ayat2 Cinta? tidak ada Yoseph adik kandungnya Maria, juga tidak ada ayahnya Maria. Padahal di novelnya kedua tokoh tersebut punya interaksi yang tidak sedikit dengan pemeran utamanya.

Cukup puaslah dengan KCB, meski harus menahan rasa penasaran untuk KCB-2nya. Settng juga dilakukan di Mesir, meski seperti apa wajah kampus Al-Azhar belum terlihat jelas. Mungkin ada larangan ya, bikin film di seputaran Al-Azhar :D

Kita tunggu aja seperti apa KCB-2nya..

Kamis, Juni 11

Ketika Cinta Bertasbih The Movie



Filmnya dah keluar, akhirnya.... ^^ Tapi keknya belum bisa nonton, belum ada waktu yg pas. Kalo ngeburuin nonton perdana dihari ini, bisa berabe... pastinya semua studio 21 penuh. Lha barusan aja si Ozi udah ngomong "Gimana? Nonton?", tau banget deh kalo nonton bareng aku dianya kan gratis tiket plus snack... :p

Sebenarnya tadi Ully (teman kantor) juga ngajak nonton bareng aja, sekalian katanya sama anak2 105. Tapi jauh banget, mana nontonnya mgkn dijam malam (soalnya Ully aja dapat shift G yg artinya dia pulang ngantor jam 4pm, bisa kebanyang mo jam berapa lagi nyampe rumah?). Alasan laennya kondisi fisik belum fit benar, jadi mending nonton di Binjai aja.

Penasaran...


Karya Kang Abik yang difilmkan kan bukan ini pertama, sebelumnya ada Ayat2 Cinta yg disutradarai oleh mas Hanung. Kecewa, terlalu!! Banyak banget cerita yg gak sesuai ma novelnya. Originalnya hilang, jadi lebih seperti rekayasa. Meski penontonnya membludak dan banyak juga yang meneteskan air mata saat melihatnya, tetap aja buat aku yg udah baca novelnya merasa kecewa. Mana settingnya juga bukan di Mesir, tapi Jakarta yg disulap jadi Mesir dan beberapa adegan padang pasirnya diambil di India. Nah kalo yg ini, dari beberapa thriller yg sempat aku liat, benar2 ambil setting Mesir. Jadi gak sabar, pengen banget liat dan mudah2an aja gak mengecewakan. Seperti apa ya filmnya? Ntar kalo udah nonton, aku kasi komentar deh disini. Ketika Cinta Bertasbih menurut Yuliza.... :D