Sekarang kalo lagi online di facebook, aku gak cuma sibuk dengan memberi komentar ke status2 sahabat yang menarik, tapi juga jadi asyik dengan bermain gamenya. Berawal dari undangan sesama teman di facebook, dicoba, eh ternyata asyik :D Saking asyiknya blog lama gak di update...
Happy Aquarium, gamenya anak2 banget :D Kalo lagi online jadi suka kangen Kampus. Teringat ama anak2 Budidaya yang lagi di Laboratorium, cek kualitas air, bersihin aquarium, kasi pelet ke ikan2, sampe ngawini ikan2.. hehehe... dan di game ini aku udah berhasil 3x ngawini ikan... Meannya juga gak nyita waktu, asal tau strategi kapan musti ngecek aquarium buat bersihin tank dan kasi makan ikan...
Kalo yang ini jauh lebih seru.. Tau Cafe World gara2 di invite ma Vanya. Sebelumnya dia udah antusias ngobrol soal game ini pas kita lagi liburan ke Kabanjahe (ke rumahnya Bella). Katanya kalo udah bosan dengan The Heist bisa maen game laen. Cafe World asyik, kita berperan sebagai koki dan kita akan diberikan daftar menu yang bisa kita siapkan plus harga dan lama penyajian, jadi yaa itu tadi.. kalo udah tau triknya, maennya jadi asyik :D gak harus lama2 online. Onlinew cukup buat memulai memasak makanan dan di saat makanan telah selesai di masak. Suka ngayal kalo bisa punya cafe sendiri... :D Habis, seru banget kalo bisa mendekor cafe sekeren mungkin...
Kalo yang terakhir ini lebih keren, Farmville membuat kita layaknya seorang petani ala Amerika, bisa punya ladang yang luaaaaasss banget, trus kita bisa punya peternakan yang besar. Belum lagi asset berharga laennya kaya villa, kendaraan plus perkebunan yang super duper luas. Syaratnya ya kita musti punya cukup uang buat mengembangkan pertanian kita. Ini parahnya... Aku selalu gagal panen, dan vanya capek berkali2 ngingatin jangan sampe apa yang udah ditanam busuk gara2 lupa manen.. :D
Setiap bermain farmville, aku pasti sempatin mampir ke ladang2 tetangga. Karena setiap kali mampir bisa menambah poin, sekaligus cuci mata. Karena kalo ladang beneran, pasti aku udah berdecak kagum.. keren2 banget... Malah ada yang sampe punya balon udara.. hehehehe...
Well, apapun permainannya dan gimanapun serunya, tetap jangan sampe lupa waktu. Sesekali bolehlah online buat nge-game.

Kalo ibunya Ikal punya pendapat dan bisa mengelompokkan hal2 aneh pada orang ke dalam kelompok urutan penyakit gila, aku pikir aku juga punya pendapat sendiri tentang customer yang saban hari aku hadapi.
Kali ini aku ingat dengan 2 percakapan yang sangat bertolak belakang. yang satu nyenangin, yang satunya lagi nyebelin. Yah, resiko kerjaan, gak ada pekerjaan yang gak bikin mumet, gak biki capek, gak bikin gerah... dan so on. Semua punya sisi nyenangin dan sisi nyebelin. Yang terpenting gimana ngejalani itu semua dengan lapang dada.
Beberapa hari yang lalu, sebelum gempa di Sumbar terjadi, seorang customer terhubung ke mejaku. Seperti biasa, aktifitas ngobrolpun dimulai...
Kring.... (aslinya gak berdering gitu)
aku: Pusat layanan informasi, selamat siang, dengan Liza ada yang bisa dibantu?
customer: Mbak, tolong beri saya no telp di alamat bla bla bla... (dia, cowok nyebutin alamat dengan lengkap dan aku mencari data telp yang diminta)
aku: baik, mohon ditunggu sebentar
(gak lama mencari, kebetulan juga data yang diminta masih no telp seputaran medan, ya lumayan gampanglah, no telp yang diminta akhirnya ketemu)
aku: terima kasih masih menunggu, baik pak no telpnya 061xxx
customer: ada yang laen?
aku: baru satu line, pak
customer: hmm... atas nama siapa ya, kalo boleh tau?
aku: maaf pak, tidak bisa konfirmasi atas nama.
customer: gitu ya? tapi siapa yang tau? toh kita juga ngomongnya di telp, kan gak ada yang tau, tolong dong mbak....
(pinter bangeeettt.... kek yang tau gimana orang kerja, masya Allah....)
aku: maaf pak, kami tidak bisa konfirmasi atas nama pemilik telp.
(aku ngomong standarlah... sedikit penegasan bahwa itu adalah prosedur)
customer: sekarang saya tanya, gimana kalau ini sangat penting, mbak masih gak mo ngasih?
(udah siang, capek, di ajak berantem lagi...)
aku: Baik, untuk sesuatu yang sifatnya sangat penting, pastinya juga tidak melalui saluran telepon, ada prosedur tersendiri Pak.
(maksa banget neh...)
customer: kalo ini kepentingan densus 88, gimana?
(jangankan densus 88, pak SBY yang minta juga kagak bisa.... eitsss... yang ini cuma dalam hati doang)
aku: maaf pak, seperti yang saya katakan sebelumnya, untuk hal yang lebih penting ada prosedur tersendiri. Ada lagi yang bisa saya bantu?
(emang susah ngomong sama orang yang gak ngerti, pake bawa densus 88 lage)
customer: aahh, ya udah deh...
tut...tut...tut...
(tuh kan, bilang makasih aja kagak...)
Untuk case di atas aku kasi label customer yang maksa banget. 
Kalo yang ini lumayan nyenangin...
aku: Pusat layanan informasi, selamat pagi, dengan Liza ada yang bisa dibantu?
customer: Selamat pagi mbak Liza. Saya (dia menyebutkan namanya) dari Surabaya. Tadi saya sudah menghubungi pusat informasi untuk no telp (dia sebutkan nama instansi). Tadi saya telah diberi no telp (dia sebutkan no telp nya) tetapi setelah saya coba, masuk ke mesin fax. Maaf mbak, apa ada line telp yang laen?
(aku sudah menemukan data telp instansi yang diinginkannya begitu dia selesai berbicara)
aku: Mohon maaf, pak. Kami akan melaporkan ke data entry untuk kesalahan no telp tersebut. Untuk instansi tersebut, bapak bisa coba di line telp yang lain (sambil menyebutkan no yang diminta)
customer: Terima kasih mbak atas informasinya, selamat siang dan selamat bertugas..
aku: terima kasih kembali, selamat siang...
(cintaaa banget dapat customer yang model ginian... ngomongnya ngademin...)
Untuk case yang ini aku kasi label customer yang mengerti.
Seorang sahabat mengirimkan mail ini kepadaku. Meski pernah menerimanya dan membacanya berkali-kali, isinya tetap menyentuh banget. Sayang dibuang...
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”
Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”.
“Aku tak mengerti” kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?”
Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”.
Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.”Ya Tuhan, mengapa wanita mudah sekali menangis?”
Dalam mimpinya, Tuhan menjawab:”Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur. Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa. Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.
Oh Ibu,
Jika engkau adalah matahari,
Aku tak ingin datang malam hari.
Jika engkau adalah embun,
Aku ingin selalu pagi hari.
Ibu,
Durhakalah aku,
Jika ditelapak kakimu tidak aku temui sorga itu.
IBU emang cuma terdiri dari 3 huruf, tapi lihat maknanya :
I = Intan Permata yang Tak Lekang Oleh Waktu
B = Batu kokoh pelindung derita setiap anak2nya
U = Untaian katanya adalah syair kedamaian bagi keluarga.
Sederhana, simple tapi sejuta makna...
Thanks to marine yang udah mau forward-in ke aku.
Usia manusia memang tidak bisa ditebak kapan berakhirnya. Kematian selalu saja menjadi misteri dari Tuhan kapan dan di mana akan menghampiri kita. Kematian tidak pernah berbanding lurus dengan usia, meski pada akhirnya kita akan berkesimpulan bahwa semakin tua semakin dekatlah kita dengan kematian. Kematian mutlak adalah urusan Tuhan dan perjanjian kita dengan NYA pada saat DIA meniupkan ruh ke jasad kita ketika kita berada dalam rahim ibunda tercinta. Kita tidak bisa mengingat itu lagi, bahkan ketika kita bersaksi bahwa benar DIA adalah Rabb semesta alam.
Kematian datang terkadang menyisakan Tanya, kenapa? Kenapa seseoarang yang begitu baik akhlaknya, yang santun budi pekertinya justru harus terlebih dahulu menghadapi kematian. Seperti halnya saudara2 kita yang menjadi korban gempa bumi di Tasikmalaya, pertanyaan kenapa gempa bumi dan longsong yang justru menjadi penyebab kematian orang2 yang mereka cintai? Kenapa bukan kematian yang wajar? Dan hanya DIA yang tau alasannya, kita hambanya hanya bisa berkesimpulan bahwa kita tak kuasa menolak takdirnya dan apa yang menjadi takdirnya adalah yang terbaik buat kita juga buat orang yang meninggalkan kita. Karena DIA Maha Suci dari sifat menzalimi hamba2nya. Karena CintaNYA jauh lebih besar dari cinta kita padaNYA.
Hari ini beberapa sms datang mengabarkan kematian. Teman kuliahku, Rahmi Mutia telah meninggal dunia pada tanggal 5 September kemarin. Aku berusaha mengingat seperti apa wajahnya, tapi gagal. Aku lupa. Namanya sangat familiar rasanya, artinya ketika mendengar nama itu aku langsung teringat pada teman2 di UNRI. Tapi semakin mencoba mengingat, aku sama sekali tidak bisa membayangkan wajahnya. Kami berbeda jurusan. Dia dulu di Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP angkatan 2000) sedangkan aku di Ilmu Kelautan (IK angkatan 2000). Aku coba membuka buku alumni, aku juga tidak menemukan namanya. Bisa jadi dia terlebih dahulu menyelesaikan kuliahnya atau aku yang terlebih dahulu menyelesaikan kuliah. Terlepas aku bisa mengingat seperti apa wajahnya atau tidak, kematian selalu meninggalkan Tanya. Kenapa Rahmi?
Dia masih terlalu muda. Tapi dia sakit, tumor rahim. Tetapi ada yang bisa sembuh, tetanggaku Bu Bertha divonis mengidap kanker, dia menjalani perawatan dan Alhamdulillah sembuh. Tapi kenapa Rahmi tidak? Putranya baru berusia 3 bulan, baru belajar mengenali bau bundanya dan kini sudah harus menjadi piatu. Mungkin di usia segitu dia sedang belajar merekam raut wajah sang bunda dalam memorinya. Dan tiba2 proses itu harus terhenti. Wallahu a’lam. Kematian selalu menimbulkan tanya.
Setiap kita selalu berharap usia yang panjang menyertai kita. Tapi tidak ada yang tau kapan kematian menghampiri kita. Esokkah? Lusa atau kapan? Mungkin di saat malaikat pemberi rizki tidak menemukan lagi nama kita pada rimbunan pepohonan, lalu pada luasnya lautan juga tidak ada lagi catatan nama kita, dan tidak ada jatah udara buat kita, dan pada saat itu Izrail akan mengucapkan salam, atau bahkan datang dengan tiba2 jika salam tak layak diucapkan pada kita.
Pff…
Semoga Almarhumah Rahmi Mutia diterima di sisiNYA. Dia kembali padaNYA dibulan yang penuh berkah dan maghfirah. Semoga kesabarannya menjalani hari2 yang sakit menjadi amalan yang akan melapangkan kuburnya. Amien.
Udah lama banget gak nge-blog...
Alhamdulillah malam ini kesampaian juga :D
Hari ini cuma mau berbagi cerita buka bareng teman2 kantor. Acaranya tanggal 29 Agustus kemaren, hari sabtu. Tepatnya sehari setelah angka keramat 28. Mungkin sebagai bentuk kesyukuran karena akhirnya setelah penantian yang cukup panjang rapelan tunjangan (konon katanya tunjangan skill) keluar juga. Nah, wujud syukur itu dilakukan dengan mengucapkan hamdalah di hati masing2 (aku yakin banget semua mengucapkannya) dan berbuka puasa bersama keesokan harinya.
Buka Barengan (BuBar) Part I (jiah...ada part I nya) di Warung Ayam Penyet Akbari (hehehe ane sebut merek) yang terletak di jalan Setia Budi Medan. Neh tempat direkomendasikan si Ita. Tempatnya sederhana, di pinggir jalan besar dan dekat dengan Mesjid (yang terakhir jadi pertimbangan banget). Anak2 yang ngikut seperti biasa anak2 gabungan waktu ke Pante Kelang kemaren ditambah beberapa newface (halah). Karena namanya Warung Ayam Penyet maka menu utamanya yah Ayam penyet. Dan hampir semua mesan Ayam Penyet kecuali si Rully yang doyan Bebek Penyet.. :D
Kita liat siapa aja yang kena blitz dari HaPeku. Dari Kiri ke kanan: Aku, Tya, Uki (pose terbaik Uki), Ully, Bella, Rully, Eli, Elly (again?), Rini dan yang terakhir Dicky. Yang gak kena blitz cuma Ita doang berhubung Ita yang nge-take gambarnya.
Trus, Rabu kemaren juga buka BuBar lagi. Personilnya itu2 juga seh, cuma ada bebrapa wajah baru lagi menutupi wajah lama yang kebetulan berhalangan datang...Di BuBar Part 2 gak tau siapa yang ngerekomendasikan tempat, yang pasti kami makan di warung Bakso Iga Iga yang berlokasi di Ringroad. Kali ini menunya lebih beragam, tapi tetap kalo aku lebih merasa enak di lidah menu yang di BuBar Part I :D
Seperti biasa, selesai Maghrib dan menyantap makanan berbuka, nampang dulu... ada yang buat dipajangin di facebook, ada yang buat kenang2an dan ada juga yang buat koleksi doang..hehehe

Harapannya seh, BuBar gak sekedar BuBar tapi gimana bisa terus bersilaturrahmi, dan meski BuBar mudah2an gak ada aktifitas ibadah yang terganggu.. Siipp daaahh..


