Cari Blog Ini

Jumat, September 11

Bunda, Mengapa Engkau Menangis?

Seorang sahabat mengirimkan mail ini kepadaku. Meski pernah menerimanya dan membacanya berkali-kali, isinya tetap menyentuh banget. Sayang dibuang...

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”
Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”.
“Aku tak mengerti” kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?”
Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”.
Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.”Ya Tuhan, mengapa wanita mudah sekali menangis?”
Dalam mimpinya, Tuhan menjawab:

”Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur. Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa. Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.


Oh Ibu,
Jika engkau adalah matahari,
Aku tak ingin datang malam hari.
Jika engkau adalah embun,
Aku ingin selalu pagi hari.
Ibu,
Durhakalah aku,
Jika ditelapak kakimu tidak aku temui sorga itu.

IBU emang cuma terdiri dari 3 huruf, tapi lihat maknanya :

I = Intan Permata yang Tak Lekang Oleh Waktu
B = Batu kokoh pelindung derita setiap anak2nya
U = Untaian katanya adalah syair kedamaian bagi keluarga.

Sederhana, simple tapi sejuta makna...

Thanks to marine yang udah mau forward-in ke aku.

Minggu, September 6

Bila Waktu Tlah Memanggil

Usia manusia memang tidak bisa ditebak kapan berakhirnya. Kematian selalu saja menjadi misteri dari Tuhan kapan dan di mana akan menghampiri kita. Kematian tidak pernah berbanding lurus dengan usia, meski pada akhirnya kita akan berkesimpulan bahwa semakin tua semakin dekatlah kita dengan kematian. Kematian mutlak adalah urusan Tuhan dan perjanjian kita dengan NYA pada saat DIA meniupkan ruh ke jasad kita ketika kita berada dalam rahim ibunda tercinta. Kita tidak bisa mengingat itu lagi, bahkan ketika kita bersaksi bahwa benar DIA adalah Rabb semesta alam.

Kematian datang terkadang menyisakan Tanya, kenapa? Kenapa seseoarang yang begitu baik akhlaknya, yang santun budi pekertinya justru harus terlebih dahulu menghadapi kematian. Seperti halnya saudara2 kita yang menjadi korban gempa bumi di Tasikmalaya, pertanyaan kenapa gempa bumi dan longsong yang justru menjadi penyebab kematian orang2 yang mereka cintai? Kenapa bukan kematian yang wajar? Dan hanya DIA yang tau alasannya, kita hambanya hanya bisa berkesimpulan bahwa kita tak kuasa menolak takdirnya dan apa yang menjadi takdirnya adalah yang terbaik buat kita juga buat orang yang meninggalkan kita. Karena DIA Maha Suci dari sifat menzalimi hamba2nya. Karena CintaNYA jauh lebih besar dari cinta kita padaNYA.


Hari ini beberapa sms datang mengabarkan kematian. Teman kuliahku, Rahmi Mutia telah meninggal dunia pada tanggal 5 September kemarin. Aku berusaha mengingat seperti apa wajahnya, tapi gagal. Aku lupa. Namanya sangat familiar rasanya, artinya ketika mendengar nama itu aku langsung teringat pada teman2 di UNRI. Tapi semakin mencoba mengingat, aku sama sekali tidak bisa membayangkan wajahnya. Kami berbeda jurusan. Dia dulu di Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP angkatan 2000) sedangkan aku di Ilmu Kelautan (IK angkatan 2000). Aku coba membuka buku alumni, aku juga tidak menemukan namanya. Bisa jadi dia terlebih dahulu menyelesaikan kuliahnya atau aku yang terlebih dahulu menyelesaikan kuliah. Terlepas aku bisa mengingat seperti apa wajahnya atau tidak, kematian selalu meninggalkan Tanya. Kenapa Rahmi?

Dia masih terlalu muda. Tapi dia sakit, tumor rahim. Tetapi ada yang bisa sembuh, tetanggaku Bu Bertha divonis mengidap kanker, dia menjalani perawatan dan Alhamdulillah sembuh. Tapi kenapa Rahmi tidak? Putranya baru berusia 3 bulan, baru belajar mengenali bau bundanya dan kini sudah harus menjadi piatu. Mungkin di usia segitu dia sedang belajar merekam raut wajah sang bunda dalam memorinya. Dan tiba2 proses itu harus terhenti. Wallahu a’lam. Kematian selalu menimbulkan tanya.

Setiap kita selalu berharap usia yang panjang menyertai kita. Tapi tidak ada yang tau kapan kematian menghampiri kita. Esokkah? Lusa atau kapan? Mungkin di saat malaikat pemberi rizki tidak menemukan lagi nama kita pada rimbunan pepohonan, lalu pada luasnya lautan juga tidak ada lagi catatan nama kita, dan tidak ada jatah udara buat kita, dan pada saat itu Izrail akan mengucapkan salam, atau bahkan datang dengan tiba2 jika salam tak layak diucapkan pada kita.

Pff…
Semoga Almarhumah Rahmi Mutia diterima di sisiNYA. Dia kembali padaNYA dibulan yang penuh berkah dan maghfirah. Semoga kesabarannya menjalani hari2 yang sakit menjadi amalan yang akan melapangkan kuburnya. Amien.

Kamis, September 3

BuBar Ramadhan

Udah lama banget gak nge-blog...
Alhamdulillah malam ini kesampaian juga :D

Hari ini cuma mau berbagi cerita buka bareng teman2 kantor. Acaranya tanggal 29 Agustus kemaren, hari sabtu. Tepatnya sehari setelah angka keramat 28. Mungkin sebagai bentuk kesyukuran karena akhirnya setelah penantian yang cukup panjang rapelan tunjangan (konon katanya tunjangan skill) keluar juga. Nah, wujud syukur itu dilakukan dengan mengucapkan hamdalah di hati masing2 (aku yakin banget semua mengucapkannya) dan berbuka puasa bersama keesokan harinya.
Buka Barengan (BuBar) Part I (jiah...ada part I nya) di Warung Ayam Penyet Akbari (hehehe ane sebut merek) yang terletak di jalan Setia Budi Medan. Neh tempat direkomendasikan si Ita. Tempatnya sederhana, di pinggir jalan besar dan dekat dengan Mesjid (yang terakhir jadi pertimbangan banget). Anak2 yang ngikut seperti biasa anak2 gabungan waktu ke Pante Kelang kemaren ditambah beberapa newface (halah). Karena namanya Warung Ayam Penyet maka menu utamanya yah Ayam penyet. Dan hampir semua mesan Ayam Penyet kecuali si Rully yang doyan Bebek Penyet.. :D




Kita liat siapa aja yang kena blitz dari HaPeku. Dari Kiri ke kanan: Aku, Tya, Uki (pose terbaik Uki), Ully, Bella, Rully, Eli, Elly (again?), Rini dan yang terakhir Dicky. Yang gak kena blitz cuma Ita doang berhubung Ita yang nge-take gambarnya.

Trus, Rabu kemaren juga buka BuBar lagi. Personilnya itu2 juga seh, cuma ada bebrapa wajah baru lagi menutupi wajah lama yang kebetulan berhalangan datang...Di BuBar Part 2 gak tau siapa yang ngerekomendasikan tempat, yang pasti kami makan di warung Bakso Iga Iga yang berlokasi di Ringroad. Kali ini menunya lebih beragam, tapi tetap kalo aku lebih merasa enak di lidah menu yang di BuBar Part I :D

Seperti biasa, selesai Maghrib dan menyantap makanan berbuka, nampang dulu... ada yang buat dipajangin di facebook, ada yang buat kenang2an dan ada juga yang buat koleksi doang..hehehe





Harapannya seh, BuBar gak sekedar BuBar tapi gimana bisa terus bersilaturrahmi, dan meski BuBar mudah2an gak ada aktifitas ibadah yang terganggu.. Siipp daaahh..