Rabu, September 16

Lupa-lupa Ingat

Suasana saat kegiatan berlangsung
Jadi ceritanya gini,
Pada saat mengikuti Pertemuan Kerjasama Bakoorluh dengan Instansi Terkait dalam rangka memwujudkan percepatan swasembada pangan tingkat Sumatera Utara Tahun 2015 di Hotel Soechi International Medan tanggal 15 September kemaren, aku melihat sosok pria yang sepertinya melihat aneh ke arahku.
"Abaikan!" bisik hatiku.
Aku mencoba fokus dengan narasumber di depan.

Gak lama si pria memilih duduk di deretan bangku persis di sebelahku. Namanya diliatin, pasti aku merasa dunk (ini bukan persoalan ge-er). Aku menoleh sekilas ke arahnya, dia masih melihatku dengan wajah datar tanpa ekspresi. Aku memalingkan wajah, mencoba mengingat apa aku pernah bertemu dia sebelumnya? 

"Dari Medan kan?"
Aku menoleh, dia melihatku serius menunggu jawaban.
"Iya" jawabku mengangguk. Tuh kan ternyata kami pernah bertemu sebelumnya, tapi aku lupa siapa ya nama pria ini. Mendadak jadi gak fokus ke materi.

"Temanmu yang laen mana?" dia bertanya lagi.
"Emang kita pernah ketemu di mana ya?" bukannya menjawab aku malah bertanya lagi.
Dia menghembuskan nafas kesal. Ya gimana, aku penasaran dia kok sepertinya kenal aku tapi aku gak kenal dia. Gak penting gitu, tapi aku tipe manusia yang level rasa penasaranku cepat mendadak naik meski dengan hal sepele gituan.

"Kita pernah ketemu, kamu bertiga kan? Yang satu cowok. Kok dia gak keliatan?" 
Cowok?? Omaygad... Ody! Pasti Ody yang dimaksud. 
"Oohh...Ody ya? dia udah pindah...", kali ini aku menjawab dengan ramah. Samar... rasanya memang pernah mendengar suaranya, rada familiar ama logat khas daerahnya. Dia kenal teman seprofesiku dulu, Ody yang sekarang sudah pindah bertugas. Pasti dulunya kami pernah sama-sama berada di suatu acara mirip-mirip acara yang sedang berlangsung. Hmmm... Berpikir keras...
Aahaaa... apa dia HP? (inisialnya HP, of course he's not Harry Potter). Seniorku di kampus dulu? Ya Allah... malunya aku. 

"Masih gak ingat?" tanyanya. 
Aku nyengir malu
"Bang HP ya?"
"Iyyaaa... " dia tersenyum lega. "Waktu apel akbar semua penyuluh di lapangan sejati dekat asrama haji, kan masih ku telpon kau..." sambungnya dengan logat bataknya yang kental. Aku tertawa mendengarnya.
"Iya...iya... sorry bang, abis abang beda kali sekarang" jawabku ngeles.
"Udah beda lah... sekarang aku udah tua, gigi depanku pun udah ada yang ompong" katanya sambil nyengir memperlihatkan barisan giginya. Aku terkikik menahan tawa. Banyak yang berubah memang. Termasuk diriku yang menurut sebagian teman jauh sedikit berisi ;)

Selalu aja ada cerita menggelikan saat bisa bertemu dengan teman/senior/atau junior saat di kampus dulu. Udah ah, ini postingan gak penting kali ya. Terima kasih sudah membaca hingga akhir cerita ;)


Medan dari lantai 10 *abaikan si jilbab biru :)

2 komentar:

  1. aku juga ikut senyum lo bacanya...., untung masih inget ya,,, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi iyaa...
      makasih ya udh mampir :)

      Hapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^