Jumat, September 25

Catatan Kecil dari Kegiatan Temu Lapang dan Demfarm Teknologi Budidaya Kakap Putih



Assalamualaikum sahabat blogger..
Masih dalam suasana idul qurban, aku mau ucapin selamat hari raya Idul Adha 1436 H, semoga kita dapat meneladani kisah nabi Ibrahim dan Ismail dalam meraih takwa padaNya, aamiin.

Dikesempatan ini juga, aku turut berduka atas tragedi Mina di Saudi sana. Ya Allah, semoga Engkau limpahkan ampunanMu dan tempatkan mereka yang wafat di sebaik-baik tempat di sisiMu, aamiin..

Kali ini mau berbagi cerita tentang kegiatan temu lapang dan demfarm teknologi budidaya kakap putih yang aku ikuti kemaren.



Sobat blogger tau gak? di masa yang akan datang, beberapa tahun ke depan akan terjadi ledakan penduduk dunia. Tanda-tandanya udah mulai kelihatan kan? misalnya saja kebutuhan akan daerah pemukiman yang semakin meluas sehingga ruang hijau atau katakanlah daerah-daerah yang dahulunya cuma berupa perkebunan, ladang, semak-semak belukar udah mulai beralih fungsi menjadi area pemukiman. Nah, ledakan populasi penduduk dunia tersebut mau tidak mau akan memicu peningkatan terhadap konsumsi ikan.

Kebutuhan akan ikan nantinya tidak dapat bergantung pada ketersediaan alam (hasil tangkap) saja. Karena saat ini saja, hasil tangkapan nelayan kita sudah mulai berkurang. Faktor penyebabnya sih beragam, mulai dari pencemaran, alih fungsi hutan mangrove, SDM nelayan-nelayan kita yang masih rendah, alat tangkap yang digunakan nelayan kita yang masiihhh banyak menggunakan alat tangkap tradisional, belom lagi penggunaan trawl yang masih digunakan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab, belom lagi banyak ikan-ikan kita yang dicuri. Aaahhh, masalahnya memang sudah berbelit-belit seperti benang kusut.

Satu-satunya harapan untuk terpenuhinya kebutuhan konsumsi ikan tersebut ada pada sektor perikanan budidaya yang mandiri. Data dari FAO (2013) menyebutkan bahwa pertumbuhan produksi perikanan tangkap cenderung stagnan berkisar 1,3% pertahun sementara pertumbuhan produksi perikanan budidaya meningkat 8,2% pertahun. Inilah yang menjadi latar belakang pentingnya melakukan pembangunan dan pengembangan perikanan budidaya yang ada di Indonesia umumnya dan Kota Medan khususnya, salah satunya dengan kegiatan temu lapang dan demfarm yang berlangsung pada tanggal 23 September kemaren.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam. Diadakan di Gedung Marina, Jalan Serma Hanafiah Belawan-Medan. Peserta kegiatan ini adalah para Pokdakan (Kelompok Pembudidaya Ikan) yang terdaftar di Medan. Ada lebih kurang 100 orang pelaku utama perikanan bidang budidaya (perwakilan pokdakan) yang hadir pada kegiatan itu. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dirjen Perikanan Budidaya yang diwakilkan oleh staf ahli menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan, Bapak Ir. Saut Hutagalung, M,Sc.

Kenapa diadakan di Medan? Nah, ada beberapa alasan kenapa Kota Medan terpilih sebagai lokasi pelaksanaan demfarm. Pertama, Medan memiliki potensi yang besar di bidang perikanan baik itu perikanan tangkap, perikanan budidaya dan wilayah pesisirnya. Selanjutnya, Kota Medan memiliki akses yang dekat untuk proses export-import. Kemudian, ada beberapa Pokdakan yang concern di bidang budidaya ikan kakap putih, salah satunya Budidaya kakap putih dengan metode Keramba Jaring Apung (KJA) milik Pokdakan Putra Jalasenastri dari Kelurahan Belawan 1, yang menjadi lokasi percontohan tehnik budidaya kakap putih di Medan.

Lebih lanjut, temu lapang dan demfarm teknologi Budidaya Kakap Putih bertujuan untuk memberikan contoh teknologi yang sesuai pronsip Good Aquaculture Practice (GAP) untuk mencapai peningkatan produksi, memberikan contoh manajemen bisnis budidaya ikan yang berbasis kelompok, memberikan contoh pola pengembangan usaha (kemitraan) dan meningkatkan efektifitas dan efisiensi usaha perikanan budidaya.

Salah satu komoditi yang menjadi sasaran demfarm di Tahun 2015 ini adalah kakap putih. Kakap putih (Lates calcarifer) adalah jenis ikan dengan range salinitas yang luas sehingga relatif mudah dibudidayakan. Adaptasi pakan ikan ini terbilang mudah sehingga pertumbuhannya juga relatif cepat. Ikan ini banyak diminati masyarakat meski dengan harga jual yang tinggi.

Semoga saja kegiatan yang berlangsung kemaren dapat menambah wawasan dan motivasi baru bagi pembudidaya ikan yang ada di Kota Medan. Sehingga apa yang menjadi program pemerintah untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya berjalan dengan baik. Dan tentu saja semoga kelak, kita tetap bisa mengkonsumsi ikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalin komentar kamu di sini ^^