Sabtu, Februari 8

Kelok Lima dan Hantu Kuntilanak

Pembalasan hantu kuntilanak hehehe XD~, Bukannya mau bercanda. Aku percaya dengan keberadaan makhluk ghaib seperti jin, iblis dan setan karena di dalam Al Quran juga diceritakan tentang makhluk2 ghaib tersebut. Hanya saja, persoalan kuntilanak ini aku pikir hanya ada di Indonesia.

Karena film-film horor versi Indonesia demen banget menampilkan sosok hantu perempuan dengan rambut panjang terurai dan suara ketawa melengking yang kalau lama-lama diperhatikan bukannya menakutkan malah bikin bosan. 

Entah si penulis skenario pernah bertemu langsung dengan hantu model begitu atau tidak, yang jelas penampakan hantu kuntilanak selalu ditampilkan seperti itu. Terkadang mereka menyamar menjadi sosok wanita yang cantik jelita. 

Dan, kenapa kali ini aku jadi ngomongin soala hantu kuntilanak? :)

Ini karena aku baru saja selesai membaca novel Kelok Lima, karya B. Yass. Ketemu novel ini waktu bantuin mamak beres-beres laci dan rak tempat Mamak dan Abah biasa menyimpan surat-surat penting.

B. Yass adalah nama pena dari Baharuddin Yasin Simbolon. Dan novel Kelok Lima ini adalah modifikasi dari naskah cerber  "Di Lereng Bukit", yang mendapat penghargaan sebagai juara II pada sayembara Mengarang Cerber Femina 1994.

Kelok Lima adalah sebutan buat jalan lintas di daerah perbukitan yang memang berkelok-kelok di Sumatera Selatan. Jalan lintas tersebut adalah jalan utama yang menghubungkan Palembang dengan ibukota propinsi lain. Kelok Lima mendadak menjadi topik pembicaraan orang-orang ketika dua kecelakaan tragis terjadi di sana. Keluarga dan pekerja (sopir) dari pengusaha kaya raya bernama Agus Tahir menjadi korban pada 2 kecelakaan tersebut. 

Kejadian tersebut kemudian menjadi sebuah misteri karena ketika masih dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya tewas masing-masing sopir mengaku kecelakaan tersebut terjadi karena ada sosok wanita tanpa busana yang secepat kilat melompat ke arah kaca bus dan truk. Sulit untuk dipercaya memang. Tetapi sebuah kejadian tak lazim yang dialami Udin, seorang wartawan lokal di daerah itu membuatnya terlibat dalam penyelesaian misteri di kelok lima. Ada makhluk lain yang ikut tertangkap kamera saat Udin bekerja di tempat kejadian perkara. Dan makhluk tersebut adalah hantu kuntilanak.



Aku nyaris enggan melanjutkan cerita karena sedikit terganggu dengan bahasa yang digunakan penulis. Terlalu panjang dan bertele-tele. Terlalu banyak pengulangan. Tetapi misteri hantu kuntilanak yang tertangkap kamera Udin membuatku bertahan untuk terus melanjutkan cerita. Kemunculan kuntilanak tersebut bukan tanpa sebab. Ada sakit, kecewa, dan marah yang memang ingin ia lampiaskan pada orang-orang tertentu. Orang yang telah menyakitinya saat dirinya masih hidup. Ya, hantu kuntilanak pada cerita ini adalah arwah penasaran seorang wanita yang mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Dia tidak mati sendiri, karena ada janin di dalam tubuhnya yang ikut bersamanya. 

Bagian lainnya yang sedikit membuat aku merasa ada kesan "dipaksa" pada novel ini adalah saat Udin mencetak photo-photo hasil jepretannya. Si pencetak dikatakan tidak menyadari keanehan photo. Rasanya gak masuk akal. Karena deskripsi mengenai makhluk yang muncul di photo itu sangat jelas. 

Meski bagiku cerita ini agak membosankan, tapi aku berhasil menyelesaikannya :)

Dan semoga mimpi buruk tidak menghantui tidurku malam nanti..


3 komentar:

  1. wah bukunya udah lama ya? kalau bahasanya membosankan, mungkin karena ada kesenjuangan dengan bahasa novel yang biasa kita baca jaman sekarang kali? :D

    BalasHapus
  2. biasanya kalau buku lama eyd masih belum benar. aku juga punya buku lama kalau baca bikin ketawa :D

    BalasHapus
  3. Aminnn...
    Tapi biasanya novel lama, misterinya lebih terasa...

    BalasHapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^