Jumat, September 27

[Review Buku] Rantau 1 Muara


Judul : Rantau 1 Muara
Penulis : A. fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Bertualanglah sejauh mata memandang
Mengayuhlah sejauh lautan terbentang
Bergurulah sejauh alam terkembang

Aku menutup novel ini dengan senyum mengembang. So sweet and unpredictable. Tak menyangka akan semanis itu dan tak pernah berpikir akan berakhir begitu. 

Aku gak mau membahas isi cerita karena sama seperti di dua novel sebelumnya cerita di Rantau 1 Muara ini juga berisi motivasi yang luar biasa untuk tidak takut dengan kegagalan. Berjuang mati-matian sampai tetes darah pengahabisan. Kalimat itu sangat coocok mewakili karakter tokoh Alif Fikri. Tidak hanya dalam mengejar mimpi untuk bisa melanjutkan sekolah di Amerika, tapi juga demi mengejar belahan jiwa yang kemudian dia panggil cinta. Semuanya tidak mudah dilaluinya, semuanya butuh pengorbanan dan kerja keras. Kerja keras yang jauh lebih keras dari rata-rata yang dilakukan orang. Luar biasa!

Sama seperti dua novel sebelumnya, di rantau 1 Muara ada mantra ketiga yang menjadi penyemangat tokoh Alif. Mantra ketiga berbunyi, “Man saara ala darbi washala”, siapa yang berjalan di di jalannya akan sampai di muara. Mantra ini muncul ketika Alif bingung mau jadi apa setelah memperoleh gelar sarjana. Mantra ini juga yang akhirnya membuat Alif semakin yakin dengan pilihannya menjadi jurnalis setelah lama merenung berpikir apa sebenarnya yang ia inginkan.

Selanjutnya soal 5-3-1, deretan angka ganjil yang penuh makna yang muncul di masing-masing novel. A. Fuadi memang cerdas. Bahkan dalam memilih rangkaian judul untuk trilogi ini. Dari awal-awal rilis aku sangat penasaran dengan angka 1 yang dipilih di novel terakhir. Siapa sangka angka 1 itu ternyata sangat sederhana. “Pulang”.

Kemanapun kaki melangkah, sejauh mana diri berpetualang, tetaplah kembali pulang menjadi akhir dari perjalanan. Pulang di sini juga memiliki banyak makna. Seperti tokoh Alif yang merasa nyaman dengan keadaannya di Washington DC. Semua yang menjadi impiannya akhirnya berhasil dia raih. Dia bahagia. Tapi tidak dengan belahan jiwanya yang selalu rindu ingin pulang. Pulang kembali ke tanah air. Dan di lain cerita, tokoh Alif harus ikhlas melepaskan kepulangan sahabat tercinta, Mas Garuda ke haribaan Rabbnya pada tragedi 11 September. Pulang menimbulkan pergulatan batin di diri Alif. Meski begitu pulang tetaplah menjadi akhir perjalanan hidup manusia di dunia ini. Dari mana kita berasal, kelak ke sanalah kita akan pulang.

1 komentar:

  1. Novel nya A Fuadi selalu memberi inspirasi bagi pembacanya
    Zasachi......Makasih ya review....membuat penasaran utk membaca lanjutannya

    BalasHapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^