Senin, April 22

[Review Buku] Totto - Chan


Beberapa kali ke toko buku, aku juga pernah melihat buku ini tersusun rapi di rak penjualan. Sempat juga memegangnya, tapi dikembalikan lagi ke rak. Dulu ya beda, uang saku juga diperoleh dari ortu. Jadi membeli buku juga benar-benar dipilih buku mana yang paling diperlukan. Pastilah buku-buku yang berhubungan dengan perkuliahan. Untuk bisa mengoleksi novel sepertinya aku harus berpikir ulang zaman itu.

Beberapa bulan yang lalu akhirnya Totto Chan bisa berada dalam genggamanku. Eits, aku mendapatkannya dari penjual buku seken. Harganya muraaah banget. Tapi sesuai juga sih ama kondisi buku yang emang udah tua banget. Tertulis di dalamnya diterbitkan PT. PANTJA SIMPATI JAKARTA. Kalo edisi yang baru sepertinya terbitan Gramedia kan ya??
Udah gitu buku Totto Chan yang sudah berada di tanganku ternyata merupakan cetakan kedua (1986) Wuihhh udah tua banget. Aku jadi berpikir apa mungkin buku ini adalah warisan dari ortunya si penjual ya??

Oke, karena sudah memilikinya akhirnya aku bisa menuntaskan membaca kisah si gadis kecil yang cerdas itu. Totto adalah nama kecil dari penulis (Tetsuko). Menurutnya karena masih kecil agak susah buatnya menyebut namanya sendiri, sehingga yang muncul kemudian adalah Totto. Cerita ini berisi kenangan penulis terhadap sekolah TOMOE, sebuah sekolah dasar di Jepang pada masa-masa perang dunia II. Sekolah TOMOE berdiri atas inisiatif seorang pemerhati pendidikan dan anak-anak, Pak Kobayashi (Kepala sekolah TOMOE). Sebelum mendirikan TOMOE yang "berbeda" dari sekolah umum kebanyakan, ternyata Pak Kobayashi sudah melakukan riset termasuk memperhatikan bagaimana sekolah-sekolah di Eropa melakukan sistem pendidikan dan pengajaran terhadap murid.

TOMOE memang berbeda. Aku jadi iri dengan Totto, karena dia memiliki pengalaman yang luar biasa saat duduk di bangku SD. Totto Chan pernah berkemah di sekolah, pernah memasak di alam terbuka, mengunjungi kuil-kuil tua, bercocok tanam, dan pengalaman2 lainnya. Setiap hari saat pelajaran akan dimulai, semua murid bisa memulai dengan pelajaran apa yang mereka minati. Jadi tidak ada jadwal/roster mata pelajaran. Yang suka melukis boleh melukis, yang senang matematika boleh memulai mengerjakan soal matematika, yang senang mengarang boleh memulai mengarang. Keren banget. Guru hanya mengawasi. Masuk akal juga sih, karena jumlah murid di TOMOE tidak banyak. Di kelasnya saja (kelas 1) jumlah murid tak lebih dari 10 orang. Orang-orang akan menyangka TOMOE sekolah yang aneh, karena ruang kelasnya sendiri adalah gerbong2 kereta api yang tak terpakai lagi. Tapi menurutku TOMOE dan Pak Kobayashi adalah sekolah dengan metode pembelajaran yang sangat sesuai diterapkan. Karena anak-anak telah dilatih untuk menemukan minat mereka secara alamisejak dini dan diajarkan untuk concern pada minatnya tersebut.

Masuknya Totto ke sekolah TOMOE juga bukan tanpa alasan. Sekolah pertama di mana Totto belajar tidak bisa menerima Totto karena Totto dianggap nakal dan suka membuat kegaduhan di kelas. Padahal menurutku Totto hanya ingin tau tetapi rasa ingin taunya terlalu over sampai2 gurunya kewalahan.
Tapi di TOMOE, berkat metode belajar yang berbeda Totto berhasil menjadi anak yang manis.

Ada beberapa bagian cerita di buku ini yang sangat menyentuh. Pertama saat telinga Totto digigit oleh Rocky sampai daun telinganya terkulai (nyaris lepas). Totto malah membela Rocky "jangan marahi Rocky..!! Jangan marahi Rocky…!!" saat orang tuanya ingin memeriksa telinganya yang terluka. Totto dan Rocky sangat dekat satu sama lain, mengingatkanku akan sebuah kesetiaan hewan pada majikannya. Bedanya yang ini majikan yang sangat menyayangi anjingnya. Bagian yang lain saat Totto harus kehilangan teman sekolahnya. Kenangan-kenangan yang pernah dialaminya bersama si teman membuat mataku ikut meneteskan air mata. Dan yang terakhir, bagian yang tak mungkin bisa diabaikan begitu saja adalah saat sekolah TOMOE terbakar karena perang. Murid-murid TOMOE harus berpisah begitu saja untuk mengungsi.

Di akhir tulisannnya, tesuko tak lupa menceritakan bagaimana nasib teman-temannya di TOMOE dulu. Mereka semua bisa dikatakan memiliki masa depan dengan karir yang bagus. 

Judul: Totto-Chan, Si Gadis Kecil di Tepi Jendela
Penulis: Tetsuko Kuroyonagi

8 komentar:

  1. keren banget nihbuku. aku dah baca.

    BalasHapus
  2. aku juga sudah baca...
    dan aku menangis tersedu sedu saat Toto Chan menghibur tentara dengan menyanyi kunyah kunyah....

    BalasHapus
  3. Aku belum baca bukunya, ketinggalan nih....
    Tapi aku tadi dah baca sekilas dari blok ini.. Maskasihh bbuat yang postingg, dan aku mau beli.. Masih ada gak ya? Mohon informasinya...
    Salam Alkatrans Tour and Travel.

    BalasHapus
  4. Ah ya, aku sudah baca buku ini beberapa tahun yang lalu. Menarik sekali buku ini.
    Ada lo buku lanjutannya. Sudah baca belum?

    BalasHapus
  5. dah lama nggak nge blog. mampir ke blogku ya, cuma maklum udah lama nggak di update

    BalasHapus
  6. gw baca buku totto chan zaman gw kuliah taun 2004an kalo ga salah dan dulu gw sempet mikir n ngehayal kalo suatu saat gw punya anak gw bakal didik persis kaya si totto chan ini,,,dan skg gw udah punya anak gadis umur 4th pengen banget cari sekolah yg persis pake metode di TOMMOE kira2 ada ga yah :p #ngarep sih ada :d

    BalasHapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^