Minggu, Desember 23

Review The Casual Vacancy




JUDUL : THE CASUAL VACANCY
PENULIS: JK. ROWLING
PENERJEMAH: ESTI A. BUDIHABSARI, ANDITYAS PRABANTORO, DAN RINI NURUL BADARIAH
PENERBIT: QANITA, CETAKAN PERTAMA NOVEMBER 2012


The Casual Vacancy berisi cerita tentang perebutan kursi kosong di Dewan Kota Pagford setelah kematian salah seorang Anggotanya, Barry Fairbrother. Kematian Barry Fairbrother sendiri bisa dikatakan sangat tragis. Dia tewas ketika akan makan malam bersama istrinya di halaman restoran yang ada di sebuah klub golf di mana ia menjadi anggotanya. Dugaan kematiannya adalah Aneurisme atau pecah pembuluh darah otak.
Kekosongan jabatan (Casual Vacancy) dianggap terjadi:
a) Ketika seorang anggota dewan tidak bisa hadir untuk menerima pelantikan jabatannya dalam kurun waktu yang sudah ditentukan; atau 
b) Ketika surat pengunduran dirinya disetujui; atau
c)Ketika ia meninggal dunia... (Charles Arnold-Baker, Local Council Administration, edisi ketujuh)

Karena kematian Barry lah kemudian muncul nama-nama yang tertarik untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut. Mereka adalah Collin Wall, Simon Price dan Miles Mollison. Ketiganya merasa punya tanggung jawab terhadap Pagford, kota di mana mereka tinggal. Sebuah kota kecil di Inggris yang terletak di sebuah lembah dengan bukit-bukit hijau yang mengelilinginya. Sebuah kota kecil yang indah dengan kemegahan bangunan-bangunan rumah zaman Victoria. 

Meskipun begitu, ketiga kandidat yang merasa punya tanggung jawab terhadap pagford sebenarnya adalah individu-individu dengan kepentingan yang berbeda. Tak satupun yang memiliki ketulusan seperti Barry Fairbrother. Satu persatu kejelekan mereka terbongkar lewat sebuah pesan di website dewan kota. Pesan-pesan tersebut seperti terror yang menghantui masing-masing kandidat, karena selain isi pesan yang ditulis, sipengirim pesan menggunakan nama akun Hantu Barry Fairbrother.

***
Sebelum membaca The casual Vacancy, lupakanlah sejenak tentang sihir, sapu terbang dan hal-hal “aneh” lainnya karena novel ini sangat berbeda. JK. Rowling benar-benar keluar dari zona sihir di sini. Dia lebih bebas mengekspresikan masalah sehari-hari yang kerap kita temui dalam novelnya dan berhasil  menggambarkan setiap tokoh ciptaannya dengan sangat detail. 

Awalnya setelah kematian Barry Fairbrother, aku pikir cerita akan berkelindan pada proses penyelidikan kematian tersebut. Aku salah, halaman demi halaman berikutnya yang muncul justru tokoh-tokoh baru dengan watak dan karakter tersendiri. Begitu banyaknya tokoh yang terlibat, sampai aku merasa perlu membuat daftar nama mereka agar aku tidak terkecoh. Harus diakui pada bagian ini JK. Rowling bener-bener hebat karena dia bisa mendeskripsikan karakter yang kuat pada masing-masing  tokoh cerita yang dia ciptakan. Jadi meski ada begitu banyak tokoh cerita di dalamnya, novel dengan ketebalan 593 hal ini masih bisa diikuti jalan ceritanya karena masih-masing tokoh tersebut saling berhubungan antara satu dengan yang lain. 

Ada kejutan lain yang akan kita temui  di novel ini yaitu keberanian JK. Rowling untuk blak-blakan dalam bercerita. Setiap hal akan dia gambarkan sedetail mungkin, tak peduli meskipun itu sesuatu yang sangat jelek dan tabu bagi kita. Tidak ada sensor untuk mengganti kata-kata jelek tersebut dengan bahasa yang lebih bisa diterima. Semuanya mengalir seperti apa adanya. Menariknya, karena kata-kata yang tidak disensor itu justru berhasil memperkuat bayanganku tentang betapa mengerikannya keadaan di Pagford sana. Tak heran jika di sampul depan cover sudah ada warning bahwa The Casual Vacancy adalah novel untuk pembaca dewasa.

Setelah melahap novel ini selama hampir 5 hari, aku berkesimpulan bahwa hampir keseluruhan isi dari novel ini berisi kebencian. Tak hanya kebencian, novel ini dari awal sudah bercerita tentang “masalah”. Mulai  masalah politik tentang batas wilayah, masalah kenakalan remaja dengan sex bebas, sampai narkoba menjadi sorotan utama di novel ini. Aku jadi merasa tokoh-tokoh dalam cerita seperti sekumpulan orang-orang gila yang sangat mengerikan. Mereka memiliki ambisi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, ambisi untuk kesenangan pribadi semata-mata tanpa peduli bagaimana akibatnya dengan orang lain di sekitar mereka.

Meskipun nyaris berisi masalah, toh tetap ada bayak hal yang bisa diambil dari The Casual Vacancy. Cerita ini tidak melulu tentang perebutan kursi jabatan anggota dewan loh. Melalui The Casual Vacancy JK. Rowling juga menyindir prilaku buruk orangtua terhadap anak. Kejahatan prilaku pada anak-anak ternyata bisa jadi bersumber dari pola asuh yang salah dari orangtuanya. Anak-anak menjadi dendam pada orang tua mereka sendiri dan matian-matian mencari cara bagaimana membalas prilaku kasar orangtuanya atau mempermalukan mereka. Seram banget.

Akhirnya, aku gak bisa cerita lebih banyak lagi. Aku hanya berpikir bahwa pada dasarnya semua orang ingin dihargai, pun begitu dengan anak-anak. Dan mereka tau penghargaan tertinggi yang mereka dapatkan berasal dari sebuah ketulusan. Jadi jangan pernah bermimpi bisa merubah Pagford jika kau tidak miliki hal tersebut, ketulusan seperti yang dimiliki oleh Barry Fairbrother.

12 komentar:

  1. sepakat mbak Za, di novel ini JKR begitu blak2an & tanpa basa-basi. btw dr. Jawanda itu bukankah memang udah jd anggota dewan, sama dg Barry? soalnya dia ikut jg kan dlm rapat dewan yg ngebahas klinik Bellchapel. CMIIW ^^ salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Correct ^o^
      Thanks b4. Fokus ke penerima pesan dari hantu Barry Fairbrother, termasuk Parminder di dalamnya. Padahal bener banget dia dan Barry sama2 anggota dewan.
      Salam kenal mbak..

      Hapus
  2. Wow.. review yang keren banget. Sudah berapa kali aku membaca review disini ? Aku terlambat menyadari kehebatanmu membuat review..

    Terus terang, kalau dari cover buku sih aku gak tertarik utk membacanya... tapi setelah membaca review ini ternyata buku itu menarik juga. Tapi, kebayang 'capeknya' membaca buku itu karena ternyata berbagai masalah muncul disana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya mbak Ren, tapi sejujurnya liza masih belajar2 neh bikin review :) The Casual Vacancy sendiri lumayan novel berat dengan banyak tokoh di dalamnya.

      Hapus
  3. Wah..., meski tidak ada sihirnya, jadi penasaran untuk membaca langsung The Casual Vacancy yang "menyihir" juga perilaku buruk anak-anak akibat orangtuanya.

    BalasHapus
  4. Terima kasih udah berbagi review novel The Casual Vacancy ini, jujur saja saat melihat novel ini terpajang di rak toko buku memang saya berpikir kalo novel ini juga ndak jauh jauh tentang sihir, ternyata salah ya hehehe

    Kalo ada label dewasa sepertinya novel ini layak untuk dibeli hehe Thanks for sharing ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kembali :)

      salam kenal ^o^

      Hapus
  5. review novel yang mantabs punya, sampai sekarang saya blm bisa bikin review neh, msh sekedar resume duang.
    Btw, kirain casual vacancy itu judul sebuah buku ttg motivasi dan sejenisnya. Belum ke TB lagi, jd belum prnh lt langsung deh novelnya

    BalasHapus
  6. baca reviewnya aja udah menarik banget
    jadi pengen beli buku ini :D

    BalasHapus
  7. JK. ROWLING tanpa sihir? Kayaknya menarik ini.....

    BalasHapus
  8. Nice post..
    ku berkunjung sambil silaturahmi:)
    berkunjung juga ya ke blog ku sekali"
    rengga-tikus.blogspot.com

    BalasHapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^