Sabtu, Maret 3

Negeri 5 Menara; Mantra Dahsyat "Man Jadda Wajada"

Filmnya kereeenn…

Aku emang bukan pengamat film, tapi sebagai penonton aku cukup puas dengan film Negeri 5 Menara yang tadi siang aku tonton. Setelah membaca novelnya sebenarnya ada sedikit keraguan apakah pesan-pesan dalam novel setebal 400 halaman lebih itu bisa ditransferkan ke media visual dalam bentuk film yang hanya berdurasi lebih kurang 2 jam. Pertanyaan serupa juga dilontarkan Andy Noya dalam acara talk shownya Kick Andy edisi Jumat kemaren. Tetapi setelah menyaksikan langsung, wuihhh keren banget dah.

Film Negeri 5 Menara dimulai saat Alif dan Randai merayakan kelulusan mereka dengan menceburkan diri ke Danau Maninjau. Pemandangan alam khas Minangkabau benar-benar memanjakan mata, belum lagi adegan dengan setting pegunungan dan danau yang diiringi dengan music khas Minang, pas banget deh… Penonton benar-benar dibawa ke suasana minangkabau saat itu. Salut banget sama aktingnya David Chalik yang berperan sebagai ayah, fasih banget ngomong minangnya :D

Khawatir dengan akhlak anaknya kelak yang terkikis dengan perubahan zaman, Amak (Ibu) Alif yang diperankan oleh Lulu Tobing berdiskusi dengan Ayahnya untuk memilihkan sekolah yang tepat bagi Alif. Dan Pesantren Al Madani di Ponorogo menjadi pilihan. Sayang, Alif menolak karena tidak sesuai dengan cita-citanya yang kelak ingin melanjutkan study ke ITB. Ayahnya kemudian mengajaknya menjual kerbau mereka untuk ongkos ke Jawa. Saat itulah Alif melihat cara yang unik dalam bertransaksi tawar menawar harga, yaitu dengan memasukkan tangan penjual dan pembeli ke dalam sarung. Ntah seperti apa kode yang tercipta tak bisa terlihat dari luar. Filosofi tawar menawar ini kemudian diajarkan sang Ayah kepada Alif, bahwa tidak ada yang tau seperti apa kehidupan yang akan dijalani di Pondok Madani kecuali benar-benar masuk ke dalamnya. Ayahnya juga berkata bahwa ini adalah kehendak Amaknya untuk kebaikannya, meski Ayahnya juga tidak mengklaim bahwa Pondok Pesantren adalah pilihan terbaik. Alif akhirnya bersedia untuk melanjutkan sekolahnya ke Pondok Pesantren.



Nontonnya Di Grand Palladium Medan bareng Rahmah Eka, Sohibku Photobucket

Di Pondok Madani, Alif kemudian bertemu dengan 5 sahabat baru yang datang dari beberapa daerah yang berbeda dengannya. Ada Baso (Billy Sandy) dari Gowa, Dulmajid (Aris Putra) dari Madura, Atang (Rizky Ramdani) dari Bandung, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan dan Said (Ernest Samudra) dari Surabaya. Mereka jadi dekat satu sama lain karena berada di satu asrama. Di hari pertama belajar, Alif dan hampir semua teman-temannya tersihir dengan satu kalimat yang mampu membangkitkan semangat mereka. Waktu itu Ustadz Salman masuk ke dengan sebuah kayu dan parang yang tumpul dan berkarat. Sang Ustadz kemudian berusaha memotong kayu itu dengan parang tersebut. Berkali kali mencoba, akhirnya kayu itu terbelah.

“Bukan karena tajamnya, tapi karena kesungguhannya…Man Jadda Wajada…” Kata ustadz Salman kemudian. Mantra man Jadda Wajada yang berarti “Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil” inilah yang kemudian banyak memotivasi mereka dalam menghadapi pelajaran dan semua kegiatan Pondok Madani. Beberapa prestasipun bisa diraih seperti Baso yang kemudian bisa menjuarai English Speech Contest. Mantra Man Jadda Wa Jada jugalah yang kemudian membuat mereka berani bermimpi untuk mengarungi dunia, dan berjanji kelak ketika bertemu kembali mereka harus bisa menunjukkan foto diri mereka di menara tertinggi di negara yang akan mereka kunjungi. Widiihhhh…. Aku merinding jadinya. Tapi tidak ada yang mustahil. Doa dan kerja keras mereka terbayarkan, mimpi mereka tercapai pada akhirnya.

Film Negeri 5 Menara menurutku berhasil memperlihatkan bahwa kehidupan Pondok Pesantren tidak seperti anggapan kebanyak orang yang full dengan pendidikan agama. Pondok Pesantren justru berbeda, karena di Pondok setiap santri diajarkan menjadi pemimpin yang memilik akhlakul karimah. Pondok Pesantren mengajarkan hidup yang penuh dengan kerjasama dan kekeluargaan. Itu juga yang dialami Alif kemudian dengan saudara-saudara barunya, Shohibul Menara. Susah dan senang mereka jalani bersama. Oya, Adegan-adegan selama di pondok benar-benar keren banget loh. Meski banyak wajah-wajah baru, tapi akting mereka cukup bagus. Buktinya semua hal-hal konyol yang terjadi di pondok bisa membuat Gerrrrr ruangan bioskop. Dan adegan sedihnya membuat beberapa penonton mengeluarkan tissue, termasuk aku.

Sebuah tontonan yang sarat dengan pesan kerja keras dan persaudaraan. Sangat inspiratif dan bisa merubah cara pandang orang kebanyakan tentang Pondok Pesantren. Yang belum nonton, yuukk buruannn... :)

Note: Gambar diambil dari sini


8 komentar:

  1. wah, liat resensi kakak jadi kepengin nonton deeeh :)
    sayangnya ditempatku gak ada bioskop... #hikshiks

    BalasHapus
  2. wuihhh pasti heboh kn mba waktu si raja dr medan ngomong, bgitu juga aku pas si baso dari gowa ngomong....

    BalasHapus
  3. aku kecewa waktu nonton laskar pelangi...
    semoga film negeri 5 menara ini gak bikin kecewa

    BalasHapus
  4. belum nontonnn...huaaa...NOvelnya juga kebetuan belum punya, tp kalau buku Man Jadda wa Jadda punya..#gak nanya

    BalasHapus
  5. resensi yang menarik.
    mengingat cerita ini, jadi terbawa ke masa saat di pesntren dulu. :)

    salam kenal mba,,


    ditunggu kunjungan baliknya ya. :)

    BalasHapus
  6. waaah, sudah nonton yaa???
    aku beluum
    T.T
    eh, cerita nya gak beda jauh sm d novel kan??

    BalasHapus
  7. film yang keren bgt,..
    MAN JADDA WA JADDA!!!^^

    salam kenal y mbak,.

    BalasHapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^