Kamis, November 25

Hikmah di Sepiring Martabak

Pernah bosan dengan rutinitas yang itu-itu aja teman? Itulah yang terjadi padaku hari itu. Bosan!!! Meski aku tau hal itu seharusnya gak boleh terjadi, tapi rasa itu benar-benar menguasaiku. Parahnya lagi, Vanya sahabatku kena gejala yang sama. Tapi kami pernah berkomitmen (halah) kalau kami gak boleh pesimis, gak boleh bersedih, pokoke semua hal-hal yang berbau negatif gak boleh dekat-dekat sama kami. Sahabat yang baik harus saling memotivasi, curhat boleh tapi untuk sesuatu yang pasti. Karena itulah sepanjang hari itu kami lebih banyak diam.

Ujian test produk di kantor aku kerjakan setengah ati...
Secangkir kopipun tak mampu mengusir rasa bosan itu...
Vanya yang hasil testnya lebih tinggi juga gak merasa terhibur...
Sampai akhirnya ide itu datang darinya,
"Za, ente pulang jam setengah 5 kan?" tanyanya, aku cuma mengangguk. Hari itu dia lebih awal pulang karena dapat shift lebih pagi. Tapi dia belum beranjak juga pulang.
"Za, nyate yuuk..." aku menoleh, hanya melihatnya. Nyate maksudnya makan sate.
"Di Berastagi, sate di sana enak, kalo ente mau, ane tungguin, ba'da ashar kita ke sana.." Aku hanya mengangguk. Berastagi maksudnya Swalayan Berastagi. Jam setengah 5 aku keluar dari semua aplikasi kerja, aku matikan komputer, kemudian shalat ashar dan setelah itu kami berdua jalan kaki ke Berastagi.

Begitu nyampe disana, wuih.. udah rame... Tapi meski niat mo makan sate, gak diduga mata kami malah melototin penjual martabak yang juga ada di sana. Kami saling menatap dan "Kita makan martabak aja yuukkk..." nyaris bersamaan. Untuk pertama kali setelah rasa bosan itu menyerang kami, kami bisa tertawa.
"Martabaknya dua.." kataku pada si penjual. Di depan kami ada dua orang ibu-ibu yang juga pesan martabak.
Dan obrolanpun dimulai, obrolan gak penting, seputar kejadian-kejadian lucu dengan user di kantor. Pelayan datang membawa pesanan. tapi hanya meletakkan satu piring martabak plus satu mangkok kare-nya. Aku sodorkan ke arah Vanya.

"Yuk kita makan..." Katanya
"Duluan aja..." Kataku
"Mau tunggu yang satu lagi? Ane jamiiinnn bakalan lama, udah kita makan aja yang ini berdua, pilih mana mau pake sendok atau pake garpu?" Vanya malah memperlihatkan sendok dan garpu ditangannya. Aku diam. Melirik ke sekeliling, pasti terlihat aneh, ntar dikira LB alias Lapar Berat. Vanya seperti bisa membaca pikiranku.
"Malu? Nyantai aja lagi, gak mungkin kita cuma melototin neh martabak, gara-gara nunggu yang sepiring lagi, bisa-bisa kare nya dingin..." Dia menyodorkan garpu ke aku. Yah, tak perlu malulah kalau memang aroma martabak itu benar-benar menggugah selera. Aku ikutin saran Vanya. Tusuk sepotong, celup ke kuah kare nya dan nyam-nyam.... :)

Tapi ternyata Vanya benar, sampai suapan terakhir yang satu piring lagi belum nyampe juga. Ibu-ibu di meja depan kami malah beberapa kali mengeluh "Haduuhhh...martabaknya lama banget.." katanya kesal, dengan suara gede sampai terdengar di meja kami. Kami berdua cuma cekikikan melihat isi piring yang sudah kosong. Gak lama setelah itu baru deh piring kedua diantar ke meja kami. Dan mata si pelayan mendadak kaget ketika kami sodorkan piring pertama yang udah kosong.
"Session kedua.." Kata Vanya cuek. Si pelayan menunduk seperti merasa bersalah. Tapi gak bisa disalahkan juga, lha yang antri minta dibungkus juga rame.
"Ane bilang juga apa? lama kan?" Vanya selalu gembira ketika apa yang terjadi sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Kami kembali melanjutkan makan..
Tapi baru beberapa suapan..
"Za kok kenyang ya..." Kata Vanya
"He eh... " Jawabku, tapi aku jadi berpikir tentang sesuatu.
"Harus habis ya Za, gak boleh mubazir..." Dia mengingatkan.
"Van, aneh gak..?? porsi sepiring sama sepiring berdua ternyata kenyangnya sama..."
"Apanya yang aneh, makan rame-rame emang bikin cepat kenyang kale"
Yup, Vanya benar. Tapi aku masih belum tau apakah yang ada dipikirannya sama dengan yang aku pikirkan.
"Mungkin karena itulah kita diminta untuk berbagi, karena itu gak membuat kita kekurangan. Bayangin aja, dibagi berdua atau dimakan sendiri kenyangnya sama, tapi kalau dibagi dapat nilai kebaikan.. ya kan?"
Vanya diam sebentar, kemudian tersenyum...


*Sabtu sore,seminggu yang lalu, aku benar-benar bosan.

4 komentar:

  1. nice post zha,, never think about that before he heee,, berarti kalau makan lebih asik kalau dibagi ya

    BalasHapus
  2. @ phia_ore: Qt sudah mengalaminya sejak di Marine Station, tp ntah kenapa aku baru menyadarinya saat makan martabak diwaktu suasana hatiku bete :)

    BalasHapus
  3. Berbagi kebaikan? Hmm...sangat menyenangkan:)

    BalasHapus
  4. @ afif: yup, dan tak mengurangi apa yg qt punya... :)

    BalasHapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^