Jumat, Juli 16

Ini tentang Pesantren



Judul: Negeri 5 Menara
Penulis: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia
Harga: Rp.50.000

"...yarmi kurrah ila wasat, ilal yusra, wa gooool!!!!"
Aku tersenyum ketika sampai pada bab ini. Maradonna hapal Al-Quran. Hehehe.. rasanya pasti serasa berada di Timur Tengah, nonton bola dengan komentator yang fasih berbahasa Arab. Bedanya kejadiannya masih di negeri ini. Yup, ini memang tentang kisah Alif dan Sahibul menaranya. Dan benar-benar bikin geli, karena dibaca pas dengan momen Piala Dunia.

Sebagai orang yang juga pernah tinggal di pondok, aku benar-benar penasaran dengan novel ini. Dan seperti yang sudah-sudah, aku selalu tertinggal. Aku baru tau soal novel bagus ini saat nonton kick Andy kalau tidak salah tayang bulan Mei. Dan baru beli bukunya akhir Juni kemaren. Begitu liat isinya, gubrakzz!! cetakan pertama Juli tahun lalu. Hiks.. telat banget!

Dan begitu membacanya, ingatanku langsung melayang-layang menuju tahun-tahun di mana aku pernah nyantri.


***
Sore hari kira-kira jam 5 lebih 20 menit... Aziddin sudah selesai dengan aktifitasnya. Rata-rata santri sudah kembali ke asrama untuk bersih-bersih dan kemudian bersiap sholat Maghrib berjamaah di Mesjid Aziddin. Halaman lenggang, saat aku dan the gank (Isma, Susi, Sanah dan Via) baru kembali dari dapur setelah mengambil air panas. Air panas buat bikin milo untuk teman belajar dimalam harinya. Sambil nenteng termos berisi air panas kami berjalan melewati lapangan basket.

"Eh, liat Ustad manjat rambutan" Sanah berbisik sambil tangannya menunjuk ke arah rimbunan pohon rambutan. Disana berdiri Ustad Sholahuddin sambil melihat-lihat ke atas pohon. Pasti ada yang memanjat.

"Minta yuk" Isma udah nyelonong berlari. kamipun ikutan berlari.

"Ustaaaadd.. ana mau rambutan. Minta lah ustad..." Isma mendekati Ustad Sholahuddin.

Sementara kami hanya berdiri tidak jauh dari mereka. Ustad sholahuddin menoleh, kemudian tersenyum. Beberapa tangkai rambutan dilempar ke arah kami. Kami bersorak senang sambil berebutan buah rambutan.

"Ijlisii banaat.. ijlisii..." (kalo bahasa Indonesianya kira-kira gini, eh anak-anak..duduk ya.... maksudnya makan rambutannya jangan sambil berdiri. Kami lalu duduk di pinggir lapangan basket.

"Sapa yang manjat, Ma?" tanya Susi

"Ustad Sofyan..." jawab Isma. Kemudian bangkit dan mendekati Ustad Sholahuddin lagi.

"Ustad... ana minta lagi lah..."

"Udah..cukup dulu, besok dipanjat lagi.. Ustad Sofyan juga udah mo turun tuh"

Isma ngeyel, dia berjalan mendekati pohon, kemudian menoleh ke atas (maksudnya menoleh ke arah Ustad Sofyan) "Ustad ambil setangke lagi laahhh..."

"Eh, Isma.. jangan kemari.. besok aja besok.." Sahut Ustad Sofyan dari atas.

"Ustad pelit lah.. satu ajaaa..."Isma masih berharap.

"Sudah selesai isma.. besok kalo mau, kita ambil lagi..ayoo.. siap-siap jangan ada yang tidak jamaah di Mesjid." kata Ustad Sholahuddin sambil menepuk tangannya.

"Satu ajjaa Ustad..." yaelah Isma.

"Ismaaa.. sudah!! jangan kemari!!" Kami kaget. Itu suara Ustad Sofyan. Isma juga kaget. Buru-buru kami menyusul Isma mau lihat kenapa Ustad Sofyan sampai membentak gitu. Tapi, "Eeeeehhh.. banaaat.. udah pulang sana, ngapain lagi pada ikut kemari!!" Ustad Sofyan benar-benar marah. Isma berbalik dengan wajah kesal.http://www.smileycodes.info
Dalam hati aku berpikir "Ustad Sofyan serem juga kalo marah.."

Tapi Susi malah cekikikan. Semua heran. "Pssstt..psstt..psstt..." dia berbisik. Dan sambil berlalu kami tak tahan lagi. Begitu tiba di asrama langsung ciakakakkaka..
Menurut Susi, Ustad Sofyan marah ketika Isma mendekat itu karena dia manjat rambutan pake sarung...

***
Meski di Aziddin kami juga mempelajari Bahasa Arab, tapi berbeda dengan Pondok Madani. Bahasa Arab tidak menjadi bahasa pengantar di pondok. Begitu juga dengan buku-buku bacaan. Semuanya berbahasa Indonesia. Buku pelajaran bahasa Arab yang kami gunakan juga masih disisipi bahasa Indonesia. Jadi dalam percakapan sehari-hari selalu campur aduk.

Selebihnya, kisah sohibul menara benar-benar mengingatkanku pada Aziddin. Santri nakal yang dibotakin, jasus bahasa (setiap jum'at kami diminta untuk berkomunikasi dengan bahasa Arab dan hari minggu dengan bahasa inggris meski dengan kosa kata seadanya), Muhadharah, Pentas Seni...Hanya saja soal makan, kami tidak menggunakan kupon karena jumlah santri dan santriyah juga tidak sampai ribuan orang. Dan Aziddin juga menerima siswa/i yang tidak mondok, jadi mereka hanya ikut bersekolah pagi, tidak mengikuti program pondok yang lain.

Meski begitu, seperti halnya Alif. Aku sangat bersyukur bisa belajar di Pondok. Ada banyak hal di pondok yang diajari para Ustad dan Ustadzah tidak melalui teori tapi praktek langsung. Sehingga selamanya selalu melekat di hati. Kehadiran Negeri 5 menara setidaknya bisa membuktikan bahwa pesantren bisa menghasilkan orang-orang keren seperti Sahibul menara.. (Kalo aku, meski dari pondok juga belum bisa dibilang keren heheheeh). Pondok adalah tempat ketika pertama kali niat ikhlas ditanamkan. Ikhlas untuk belajar dan mengajar.

So, pesantren? Kerennn euy..



Nunggu buku keduanya ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalin komentar kamu di sini ^^