Kamis, Februari 11

Ibu.. Inspirasiku.. Inspirasimu.. Inspirasi Dunia

Inspirasi Negeri Dunia Anjari.

Iseng browsing membuatku terdampar di Dunia Anjari. Ada satu tantangan yang membuatku tergoda untuk mencobanya. Tantangan yang mulia, karena Anjari punya misi yang luar biasa di balik tantangannya.

Menurutnya negeri ini telah kehilangan keteladanan. Benar sekali, dalam hati aku mengamininya. Entah apa yang ada dipikiran anak bangsa ini sampai-sampai masing-masing orang tidak bisa untuk tetap berada di koridor yang berlaku. Semua berlomba untuk menyimpang, walau sedikit malah menjadi sebuah kebanggaan. Tapi benarkah sudah tidak ada lagi teladan? Anjari membantahnya. Ya, aku lebih setuju lagi. Karena dunia ini tidak seperti kata pepatah, hanya selebar daun kelor.

Cobalah perhatikan sekeliling kita, buka mata kita, simak dengan telinga, cobalah melihat dari hati. Karena jika kita benar-benar melihat dengan mata hati, ternyata negeri ini masih menyimpan anak anak bangsa yang luar biasa. Yang bekerja dengan hati dan tidak menuntut pamrih. Atau seperti kata Anjari, yang memilih jalan sunyi tanpa publikasi. Dan tantangannya adalah temukan orang2 itu.

Mereka mungkin orang yang biasa-biasa saja tapi apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang luar biasa. Temukan orangnya lalu tulis biografinya dalam bentuk artikel atau reportase, dan kirimkan ke Dunia Anjari. Karena dengan begitu misi mulia dibalik kegiatan ini Insya Allah akan terwujud, e-book yang berisi kumpulan kisah inspiratif yang bisa didownload siapa saja. Bayangkan jika ini bisa memotivasi pembaca, apa yang akan terjadi?


Mereka yang Anti NATO.

Pernah dengar iklan dengan kata NATO? Ini bukan North Atlantic Treaty Organization yang kita pelajari di pelajaran sejarah. Kalau NATO yang ini adalah No Action Talk Only. Biasanya NATO yang ini sering muncul pas kampanye pemilu atau pilkada.

Tanpa sepengetahuan kita ada sebagian orang yang anti NATO. Ketika mereka ingin bekerja, ya mereka bekerja saja. Mereka lakukan apa yang bisa mereka lakukan tanpa harus mengumumkannya ke publik. Mereka melakukannya atas dasar panggilan hati bukan demi komisi. Lihat pemulung sampah, apa jadinya Indonesia tanpa pemulung? timbunan sampah kan? Mereka tidak mengumumkan ke dunia kalo mereka yang ngumpulin sampah. Mereka tidak pernah pamer kalo merekalah yang telah ikut serta meilih dan memilah sampah. Tidak ada yang bilang terima kasih ke mereka. Dan mereka juga tidak menuntut itu. Sebagian dari mereka malah memulung karena cinta lingkungan bukan hanya karena uang.

Orang orang anti NATO ternyata banyak. Lihat saja di dunia relawan DAAI TV. Profil para relawan yang disajikan paling tidak membuka mata kita bahwa negeri ini masih menyimpan orang yang luar biasa mendedikasikan dirinya untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan dan itu dilakukan tanpa pamrih. Dunia relawan berusaha mengajak melalui contoh nyata, bukan teori semata.

Atau pernah dengar kisah suster apung. Hanya untuk memeriksa pasiennya, dia harus menantang ombak, semua dilakukan karena bentuk pengabdiannya. Banyak sekali ternyata orang orang yang mungkin tanpa mereka sadari, perjalanan hidupnya adalah inspirasi kita. Kita hanya perlu sedikit lebih peka melihat dengan hati.

Ibuku Inspirasiku.

Wanita ini bernama Nuraini. Dia adalah Ibuku. Wanita yang luar biasa. Ibuku bukan wanita karier, ia hanya seorang Ibu rumah tangga. Sejak kecil ia sudah kehilangan Ayah, dan karena ia masih memiliki adik yang masih kecil-kecil, ia hanya diperkenankan sekolah hanya sampai tingkat dasar. Tapi itu tidak membuatnya berkecil hati. Ia rela berjualan dan kehilangan masa kecil agar bisa ikut kursus menjahit. Semangat belajarnya luar biasa. Hingga akhirnya ia bisa berwiraswasta, punya banyak pelanggan.

Ibuku tidak pernah mengenal konsep marketing, tapi dia tau banyak soal marketing. Kunci utamanya adalah memelihara kepuasan pelanggan. Agar pelanggan puas, maka harus memberikan yang terbaik, karena itu semua yang bekerja padanya sudah tau tabiat ibu yang cerewet jika jahitan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Aku penah bertanya, kenapa aku tidak bisa menjahit sebagus dia. Jawabnya: ”kamu tidak suka menjahit, selama kamu tidak suka, kamu tidak akan bisa lakukan yang terbaik.”. Dari Ibulah aku belajar mencintai pekerjaan.

Ibuku tidak pernah belajar ilmu psikologi. Tapi dia adalah ibu yang berhati lembut. Tidak pernah marah, marahnya adalah diamnya. Ketika masih duduk di taman kanak2 aku masih ingat saat pulang sekolah aku berlari hanya untuk bilang kalau aku sudah bisa menggambar bintang. Waktu itu dia sedang bekerja di ruangan menjahitnya. Ia tinggalkan pekerjaanya, dan dengan antusias dia ingin melihatku menggambarkan bintang untuknya. “Jangan suka mengabaikan orang yang ingin berbagi denganmu... Tidak bisa melakukan apa-apa paling tidak kamu sudah menjadi seorang pendengar”.

Meski tidak pernah mengecap pendidikan tinggi, ibu bukan wanita yang kolot. Ibulah yang banyak meyakinkan Abah bahwa sebagai partner mereka berdua bisa menyekolahkan kami anak-anaknya hingga Perguruan Tinggi. Tanpa dukungan Ibu, Abah yang cuma PNS pernah merasa "tidak mungkin", mengingat dua saudara laki-lakiku berkuliah di Perguruan Tinggi Swasta. Sementara kami bertiga kuliahnya saling susul menyusul. Alhamdulillah, kami bisa menyelesaikannya. Dari Ibu aku belajar tidak ada yang tidak mungkin sebelum mencoba. "Setiap anak masing-masing punya rizki, kelak lakukan hal yang sama pada anak-anak kalian, karena pendidikan itu sangat penting. Dan jangan pernah lupa berdoa pada Allah, karena Allah menyukai orang yang berilmu maka Allah akan memudahkan urusan kalian"

Banyak hal yang aku pelajari dari ibuku. Tentang semangat untuk belajar dan terus belajar, tentang kesabaran, dan tentang kerja keras. Ia lakukan semua tugasnya sebagai istri, sebagai ibu dan sebagai tukang jahit secara bersamaan nyaris puluhan tahun, dan ia tidak pernah mengeluh. Karena itulah aku memilih ibu sebagai sosok yang banyak mengispirasiku. Dan aku yakin ada banyak ibu yang juga seperti ibuku di luar sana. Seperti halnya suster apung yang juga seorang ibu, pemulung yang mungkin seorang ibu, tukang sapu jalan yang juga seorang ibu, seorang dokter yang juga seorang ibu, guru yang juga seorang ibu... Dan mereka menjalani itu semua tanpa mengeluh...

10 komentar:

  1. ibu adalah inspirator yang paling mulia. dan kamu telah menuliskannya dengan apik

    BalasHapus
  2. Anybody can be our inspiration.
    but mother, is a great inspirator among the others... :)

    BalasHapus
  3. Wah..cerita yang sangat bagus..membuatku jadi terharu..Membuatku ingat kenakalan2ku saat ku kecil dan dia tidak pernah berhenti mendukungku. Ibu adalah sosok yang sangat berharga.Mudah2an kita bisa membahagiakannya&sempat berbirrul walidain. Semoga Allah membalas budi baik mereka dengan SyurgaNya...Amiin.

    BalasHapus
  4. bener zha ibu adalah inspirasi yang paling berharga..oh ya aku suka kalimat ibu mu : “Jangan suka mengabaikan orang yang ingin berbagi denganmu... Tidak bisa melakukan apa-apa paling tidak kamu sudah menjadi seorang pendengar”.

    jadi ingat bahwa terkadang kita suka ngak mau membuka diri untuk menjadi tempat berbagi untuk orang lain. keep on update ya zha

    BalasHapus
  5. @netop: terima kasih netop, pantes surga brd ditelapak kaki ibu

    @bumblebee: i agree with you. salam kenal ya..

    @devi: huhu thanks bgt ummi mumchaky. amiien, smg sempat berbirrul walidain..

    @phia: makasih ya sop dah mampir. jd pendegar mang susah ya, pasti mulut ikut nyerocos juga.. ^^

    BalasHapus
  6. Hmmm........ya ibu adalah malaikat bagi anak2nya. Kini aku sudah menjadi ibu, kini aku tahu mengapa ibu 3x lebih banyak dibanding ayah. Maaf... bukan berarti tinggi hati,tapi begitulah..........

    BalasHapus
  7. @ridha: thanks kunjungannya mbak.. :)

    @kurnia: belom, tp mudah2an diberi kesempatan jd ibu *mupeng* :D

    BalasHapus
  8. Baca tulisan ini membuat aku jadi rindu sama ibuku yg ada dialam sana

    BalasHapus
  9. dari ibu kita belajar sebuah keihklasan.. ketulusan .... kesabaran.... kasih sayang yg tak berujung

    BalasHapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^