Baiklah, meski rasanya kecewa
Ada rasa seperti dikhianati, tetapi aku mencoba ikhlas.
Mungkin ini adalah cara Allah melindungi diriku dari orang-orang yang tidak bisa berterima kasih.
Bukankah Allah katakan, bahwa orang-orang yang tidak bisa berterima kasih kepada manusia, maka ia termasuk orang yang tidak bisa bersyukur atas karunia Allah.
Jadi, sebagai tenaga pendamping masyarakat di sektor kelautan dan perikanan, aku banyak berinteraksi dengan banyak karakter yang berbeda-beda. Tetapi aku tidak pernah menyangka bahwa akan berhadapan dengan satu karakter yang bikin aku gak habis pikir.
Sebagai ketua kelompok perikanan, beliau yang aku kenal adalah sosok yang baik. Selama melakukan pendampingan, tidak pernah ada masalah,
Mereka ingin kelompoknya bisa berbadan hukum, dan mereka bersedia patungan buat mengurus badan hukum. Setelah itu mereka meminta pendampingan dalam penyusunan proposal. Aku kemudian membantu penyusunan proposal mereka. Meski belum ada tanda-tanda bahwa proposal mereka direalisasikan, hubungan antara aku dan mereka selalu baik.Namun, ada satu hal yang kadang bikin aku agak kesal sama ketua kelompok. Ini lebih subjektf ya. Karena beliau suka -menurut aku- "sok tau" tentang pekerjaanku. Misalnya nih, dia berkomentar,
"seharusnya dinas begini kan..."
"kan kalau pegawai itu bisa begini..."
kalau kita bantah kemudian menjelaskan dia bakal kekeuh sambil ketawa bilang
"iya loh, yang saya bilang bener... ih masak ibu gak percaya"
Lah, kan aku yang menjalani, tapi ya sudahlah. Kadang-kadang sulit menjelaskan sesuatu ke orang yang gak mau menerima.
.
Berapa tahun berjalan ya
Rasanya udah lama
Suatu waktu proposal mereka ternyata ada yang diterima. Itu artinya ada bantuan sarana berusaha untuk mereka. Hal tersebut membuat kami (aku dan kelompok) lebih sering berinteraksi karena harus menyelesaikan beberapa dokumen kelengkapan yang diminta pemberi bantuan.
Pada satu kesempatan, aku cerita kalau aku lagi disibukkan dengan persiapan penilaian kompetensi. Itu diperlukan untuk syarat melanjutkan studi S2 ku. Nah, mendengar itu si ketua kembali berkomentar
"itukan berarti ibu sertifikasi kan?"
Aku jelaskan bukan, berbeda
"Ya Ampun Bu, itu sertifikasi lah namanya. Saya tau itu"
Aku kesal rasanya, kembali bilang kalau itu beda.
Dia malah ketawa
"Gaji bakal naikkan?"
Bisa2nya dia bilang gaji bakal naik. Padahal ini ceritanya mau lanjut kuliah juga biaya mandiri.
😕😕😕
Singkat cerita bantuan itu turun. Mereka bahagia, aku pikir.
Mereka kirimkan wa ucapan terima kasih. Akupun rasanya senaaaang gitu bisa membantu.
Tapi beberapa minggu kemudian
Ada dokumen penting dari kelompok yang harus segera diantar ke kantor. Posisinya waktu itu sudah hari jumat, dan bukan jadwal kunjungan ku ke kelompok itu. Melalui telepon aku meminta ketua kelompok untuk mengantar berkas yang diminta ke kantor pada hari senin.
Dia bersedia mengantar berkas tersebut.
Tetapi ketika aku katakan, antar ke kantor dan jumpai Bapak A, eh dia seperti keberatan.
"emang gak bisa antar ke ibu aja di kantor?"
"gak bisa, karena saya mau ujian. Jadi langsung antar berkasnya ke Bapak A"
Ujian yang aku maksud adalah penilaian kompetensi. Dimana saat mengikutinya, kami dibebastugaskan dari pekerjaan (di hari tersebut)
"Ujian?? ujian itu kan cuma setengah hari loh bu..."
dia kembali merasa sok tau. Telepon langsung aku matikan.
Aku kirimkan draft dokumennya, aku minta tolong diprint dan ditanda tangani, lalu antar ke kantor.
Salahnya aku, aku tambahi pesan tersebut
"Kalau tidak tau apa-apa soal penilaian kompetensi yang akan saya jalani, tolong jangan sok tau ya"
Aku kira dia bakal minta maaf, eh dia malah nantangi
"di mana salahnya saya nanya ujian sampai siang, karena biasaya juga sampai siang"
😔😔😔
Aku pikir biasalah, mungkin kami sama2 lagi emosi. Nanti juga bakal kembali normal, dan aku mau fokus buat baca-baca materi untuk ujian.
Tapi yang aku gak habis pikir, ternyata aku diblokir.
Bantuan yang sudah diterima, dia minta supaya diambil kembali.
Duh, kenapa jadi ribet gini?
Semua anggota seperti diprovokasi agar tidak menghubungiku. Saat aku coba konfirmasi, kenapa dengan bantuannya. Para anggota seperti dikomandoi buat sepakat bilang, "gak sesuai spesifikasi yang kami mau bu. Barangnya terlalu berat, agak susah dioperasikan"
Sampai si pemberi bantuan pun kaget. Aya naon ini?
Kenapa di awal keliatannya senang sekali??





