Sabtu, Agustus 9

Review Always be in Your Heart


Judul Buku : Always be in Your Heart
Genre : Romance
Penulis : Shabrina WS
Penerbit : Qanita

Saat pertama sekali membaca judulnya saja, aku tau kalau novel ini akan membahas masalah kesetiaan. Dan ternyata benar... meski harus aku akui penulis mampu membuatku terkecoh dengan ending yang diciptakannya.

***
Marsela dan Juanito. Sejak kecil keduanya adalah sahabat. Selalu menghabiskan waktu bermain bersama. Pergi pulang sekolah pun bersama. Rumah keduanya memang berdekatan, dua keluarga yang sudah seperti saudara. Mereka tumbuh dan berkembang di perkebunan kopi di sebuah desa bernama Ermera, di timur Indonesia. Ketika Marsela harus kehilangan ibu yang sangat dicintainya, Tia Tika (ibu Juanito) terkadang mengambil peran itu, memperhatikan dan menyayangi Marsela seperti putrinya sendiri. Meski sebenarnya peran pengganti ibu lebih tepat diberikan kepada Mario, ayah kandung marsela sendiri yang memutuskan untuk tidak menikah lagi.

Kebersamaan yang terjalin antara Marsela dan Juanito lambat laun berubah arahnya. Jika ketika kecil mereka adalah dua sahabat karib, bahkan Juanito selalu menganggap Marsela adalah adiknya, saat usia beranjak dewasa benih-benih cinta antara keduanya tak bisa disangkal telah menghampiri hati mereka. 

Saat usianya menginjak 18 tahun, Juanito memberikan kejutan kepada Marsela. Sebuah kado istimewa, 2 ekor anak anjing yang lucu. Anak anjing itu dipungut Juanito karena induknya mati mendadak terkena peluru nyasar kelompok-kelompok yang kerap bentrok menyusul akan adanya referendum di Timor Timur. Marsela sangat senang mendapati kado ulang tahunnya. Dia berjanji akan merawat anak anjing itu dengan baik. Juanito memberi nama Lon dan Royo untuk kedua anak anjing itu. Pada saat itulah kemudian Juanito menyatakan perasaannya. Dia ingin menikahi Marsela sebelum Marsela ikut ke Dili bersamanya untuk kuliah. Dia benar-benar ingin menjadi pelindung Marsela mengingat keadaan saat itu yang semakin hari semakin tidak kondusif. Semua setuju dengan rencana indah itu. Tetapi ayah Marsela menginginkan pernikahan itu ditunda hingga keadaan menjadi jelas. Karena ayah Marsela, meski sangat mencintai tanah kelahirannya, namun cintanya kepada Negara Indonesia jauh lebih besar. 

Nasionalisme pada diri Mario, ayahnya itulah yang akhirnya membuat keduanya terpisah. Mau tak mau, suka atau tidak suka Marsela tentu harus memilih mengikuti ayahnya. Orang yang telah begitu banyak berjuang untuk dirinya. Satu-satunya yang ia miliki setelah kepergian ibunya. Maka setelah resmi diumumkan Timor Timur berpisah dari NKRI, Marsela dan ayahnya meninggalkan kampung halaman mereka, bersama orang-orang yang juga beridealisme sama. Meninggalkan Emera dan kebun kopi mereka. Meninggalkan separuh dari hatinya yang bernama cinta dengan harapan bahwa suatu hari kelak entah bagaimana caranya mereka akan bertemu kembali. Marsela membawa serta Lon bersamanya. Sementara Royo tetap tinggal bersama Juanito.

***

Sebenarnya, tema yang diangkat penulis sudah sangat biasa. Cinta yang tumbuh antara dua anak manusia yang sedari kecil menjalin persahabatan. Tapi novel ini menjadi "berbeda" karena bersetting di Timor Timur sebelum dan sesudah referendum. Adalah cinta terhadap tanah air dan orang tua ternyata mampu mengalahkan egoisme seorang Marsela untuk mempertahankan cintanya sendiri. 

Seperti yang aku katakan di awal, aku sudah menebak-nebak bahwa cerita ini tentang kesetiaan. Kesetiaan Marsela dengan cintanya pada Juanito. Sepuluh tahun berlalu, ia tetap sulit membuka hatinya untuk orang lain. Penulis benar-benar mampu membuatku sebagai pembaca hanyut dalam perasaan Marsela. Meski tidak setuju dengannya karena seperti kata Mario ayahnya, 10 tahun bisa mengubah segalanya termasuk hati. Dan seperti halnya Mario, pun sebagai pembaca aku tak berhasil menebak cerita ini dengan baik. Sebuah kejutan yang tak pernah terpikirkan olehku.

Bahasanya ringan, sesekali penulis juga menyelipkan bahasa daerah di sana sehingga gambaran mengenai negeri yang sekarang bernama Timor Leste tergambar cukup jelas. Belum lagi kepiawaian penulis menceritakan rute perjalanan Marsela ketika kembali ke tanah kelahirannya bersama Randu. 

Meskipun aku bisa menikmati cerita ini hingga akhir, ada beberapa bagian yang menurutku terkesan terlalu dipaksa. Padahal jika sedikit diberikan jeda, aku rasa penulis justru bisa mempengaruhi perasaan pembaca. Bagian yang aku maksud adalah ketika Marsela kembali pulang mengunjungi kampung halamannya. Pertemuannya dengan Tia Tika yang secara tiba-tiba terkesan dipaksa. Dipaksa bertemu di lokasi di mana rumah mereka dahulu berada. Sementara saat bertemu bangunan rumah mereka sudah tidak ada lagi, bahkan sudah banyak yang berubah. Seharusnya penulis bisa mengeksplore lebih dalam lagi, bagaimana kegigihan dan upaya Marsela untuk menemukan keluarga Juanito. Atau Tia Tika yang perlahan-lahan mencoba mengenali Marsela, karena bukankah mereka sudah terpisah selama 10 tahun lebih? Bukan ketika bertemu langsung mengenali Marsela. Aku pikir feel dari pertemuan itu akan lebih berasa.

Hal lainnya yang agak menggangguku adalah Randu. Kenapa kemuculan Randu yang sifatnya kebetulan juga harus menghilang secara misterius? Padahal porsi cerita Randu dalam novel ini lumayan banyak. Sangat disayangkan, karena aku sangat penasaran apa yang terjadi dengannya. Dia adalah sosok yang sangat baik, kan? :)

Demikianlah, hanya dalam satu malam aku berhasil menyelesaikan perjalanan cinta marsela yang dikemas sangat menarik dalam novel mini setebal 234 halaman ini. Dan di pojokan lain kamarku, berkas-berkas laporan seperti memanggil untuk segera diselesaikan. 

Note: Fyi, novel ini adalah pemenang ketiga pada lomba penulisan romance qanita.

3 komentar:

  1. Jeli sekali ya .... kritikan yang membangun sekali utk penulisnya

    BalasHapus
  2. kisah marcela dan juaninto....., review yang mengasyikkan,,,hadir dengan beberapa kritikan....keep happy blogging always..salam dari Makassar :-)

    BalasHapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^