Kamis, Mei 29

Review The Adventures of Pinocchio


Judul : The Adventures of Pinocchio
Pengarang : Carlo Collodi
Alih bahasa : Lulu Wijaya
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-0466-3
Tebal : 208 hal


Pada zaman dahulu, di sebuah desa di Italia hiduplah seorang pengukir kayu bernama Geppeto. Dia tinggal seorang diri dan sangat miskin. Suatu hari ia berkunjung ke rumah sahabatnya yang seorang tukang kayu bernama Antonio. Dia ingin meminta kayu untuk dijadikan boneka tali yang lucu. Antonio kemudian memberinya potongan kayu yang pada awalnya ingin dijadikannya kaki meja. Antonio sengaja memberikan potongan kayu tersebut, karena saat ia membuang kulit kayu itu dengan menggunakan kapak, dia mendengar suara kesakitan yang bersumber dari kayu tersebut. Dengan menyerahkan potongan kayu tersebut ke Geppeto, Antonio berharap bisa terhindar dari suara yang menakutkan itu.

Setibanya di rumah, Geppeto kemudian mulai mengambil perkakas kerjanya dan mulai membuat boneka dari potongan kayu tersebut. Sambil mengukir dan membentuk bagian-bagian tubuh boneka, Geppeto memikirkan sebuah nama untuk boneka talinya nanti. Pinocchio, ya Geppeto memutuskan akan memberikan nama Pinocchio untuk boneka talinya. Tapi apa yang terjadi? Begitu boneka tersebut jadi, alagkah terkejutnya Geppeto karena ternyata Pinocchio bisa berbicara layaknya anak-anak. Tanpa tali pun dia bisa bergerak dan berloncatan di dalam rumah Gepetto. Karena hidup sendirian, Gepetto kemudian menjadikan Pinocchio sebagai anaknya.

Sayangnya, Pinocchio bukanlah anak yang penurut. Di hari pertama setelah dia dibentuk menjadi boneka, dia sudah membuat keributan dengan menyambar wig Geppeto dan melarikannya. 

Kenakalan Pinocchio semakin hari semakin menjadi. Dia selalu menuntut ini dan itu kepada Ayahnya. Padahal Gepetto hanyalah seorang ayah yang miskin. Karena cintanya pada anaknya, Geppeto sampai menjual satu-satunya mantel yang dia punya agar bisa memberikan seragam dan buku untuk Pinocchio. Dia ingin Pinocchio bisa sekolah layaknya anak-anak yang lain.

Tapi bukan Pinocchio namanya kalau tidak penasaran dengan keadaan di sekitarnya. Karena penasaran dengan suara genderang yang ditabuh berkali-kali, Pinocchio membolos sekolah dan memilih menonton teater boneka tali. Pertualangan Pinocchio pun dimulai. Dia meninggalkan rumah dan bertemu begitu banyak hal-hal mengerikan, mulai dari diburu pembunuh sampai nyaris mati tergantung di sebuah pohon ek. Bukan itu saja, Pinocchio juga kehilangan Ayahnya yang ditelan Hiu Ganas di lautan saat berperahu mencari Pinocchio yang tak pulang-pulang ke rumah. 

***
Membaca dongeng Pinocchio ini membuatku kembali ke masa-masa di mana aku masih mengenakan seragam merah putih. Aku masih ingat pernah menonton dongeng ini. Hal yang selalu aku ingat adalah Pinocchio yang hidungnya akan memanjang setiap kali ia berbohong. Ya, di buku ini pun bagian itu ada.

Pinocchio kecil yang nakal. Yang tidak pernah mau mendengarkan nasehat. Selalu saja tergiur dengan rayuan manis yang menjebaknya ke dalam permasalahan. 

Dongeng anak ini telah dialihbahasakan dengan bahasa yang ringan, mudah dipahami dan tidak bertele-tele. Meski demikian, pembaca anak-anak haruslah mereka yang sudah mengerti betul dengan pilihan kata. Karena ada juga beberapa kata/kalimat yang terdengar kasar ketika telah dialihbahasakan ke bahasa kita. Karena jika yang membaca adalah anak-anak yang belum mengerti akan kata-kata tersebut, aku khawatir mereka akan menganggap kata/kalimat itu adalah wajar. Tentu saja bukan itu yang menjadi tujuan Carlo Collodi ketika menulis cerita ini.

Kata/kalimat kasar yang aku maksud adalah makian yang keluar dari mulut Pinocchio yang memang terkenal sangat nakal, beberapa di antaranya seperti:
"Tutup mulutmu, Jangkrik jelek!" teriak Pinocchio (hal 20)
"Masa bodoh" (hal 73)
"Kasihan si bodoh ini" (hal 119) 
Dan karena ini adalah dongeng anak, maka selalu ada pesan yang ingin disampaikan oleh pengarangnya. Beberapa diantaranya adalah kalimat-kalimat sederhana yang sangat berbekas bagi siapa saja yang mau sedikit meresapi kata demi katanya. Termasuk aku yang menjadikannya sebagai kutipan menarik. Beberapa diantaranya adalah:
"Kita tidak boleh terlalu cerewet dan rewel tentang makanan. Sayangku, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi esok hari!" (hal 31)
"Untuk mendapatkan uang yang halal, orang harus bekerja dan tau cara mencari nafkah dengan menggunakan tangan atau otak mereka" (hal 85)
"Anak-anak yang tidak patuh sudah pasti tidak bahagia" (hal 89)
"Lapar, anakku, bukan alasan untuk mengambil sesuatu yang merupakan milik orang lain" (hal 93)
"Rasa lapar adalah saus yang paling lezat" (hal 104)
"Ingatlah, tak peduli miskin atau kaya, orang harus mengerjakan sesuatu di dunia ini. Tak ada yang bisa memperoleh kebahagiaan tanpa bekerja. Kemalangan selalu menimpa pemalas. Kemalasan adalah penyakit serius dan harus langsung disembuhkan, ya bahkan sejak masih kanak-kanak. Kalau tidak kemalasan itu akhirnya akan membunuhmu" (hal 116) 
Hmm, ada satu istilah yang aku tidak tau apa maksudnya. Istilah yang aku maksud adalah "Marionette" pada hal 57. Marionette yang dimaksud adalah Pinocchio. Entahlah apa maksudnya panggilan buat seorang bocah atau boneka. Dan aku belum bertanya ke mbah google soal Marionette ini XD~

Cover bukunya berwarna coklat, warna khas untuk kayu. Ada gambar Pinocchio dengan hidungnya yang khas. Sayang Pinocchio di cover tidak mengenakan topi. Padahal topi di kepalanya adalah salah satu ciri seorang Pinocchio menurutku.



10 komentar:

  1. aku dah beli bukunya tapi belum dibaca. hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...
      Pasti numpuk tuh daftar buku yg mo dibaca ya mbak :)
      Thanks mbak udh mampir dimari.

      Hapus
  2. Itu kata2 kasar waktu si pinokio mengumpat si Jimmy Jangkrik?
    Eh kalau versi yg aku tahu nama jangkriknya Jimmy... kalau dibuku itu siapa namanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, tp di buku ini si jangkrik tidak punya nama..
      Ada versi yg lain ya? Hmm...

      Hapus
  3. aku tidak begitu suka sama dongeng pinokio, versi apapun
    karena entah mengapa, membayangkan pinokio... aku kok takut.
    boneka kayu yang hidup dan bisa bicara....udah gitu nakal pula

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti sukanya dongeng cinderella ya mbak :)

      Hapus
  4. membaca review buku ini..mengingatkan kenangan masa kecil.....yang penuh canda dan terkadang ikutan berbohong ...seperti kisah pinokio.....
    keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
  5. bener juga ya, dongeng nya memang untuk anak - anak tapi pesan yang di sampaikan sangat berharga bukan cuma untuk anak2 aja, untuk orang dewasa pun sangat bagus

    BalasHapus
  6. haloooooooooooooooo....,
    apa kabar za...?

    maaf ya baru balas,
    3 tahun vakum,
    mmmhhh,
    makin bagus blognya..,
    banyak buku...
    saya kemarin habis baca buku Yang terasing SH mintardja,
    Istirahat dulu.

    dah berapa buku yang dilahap?
    :)

    makin rame aja blognya,

    BalasHapus
  7. saya ingin buku itu .. reviewnya bikin kepengen sama buku itu ..haha bagus sukses terus ditunggu kunjungan baliknya ya

    BalasHapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^