Sabtu, Februari 16

Review Buku: Kesaksian Seorang Dokter



Judul Buku: Kesaksian Seorang Dokter
Penulis: dr. Khalid Abdul Aziz Al-Jubair, SpJP
Penerbit: Darus Sunnah
ISBN: 979-3772-18-2

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu Alla Ilaha Illallah..” Itulah suara adzan yang terdengar melalui stetoskop yang diletakkan di atas dada seorang pasien yang telah meninggal dunia.
… saya bertanya kepada keluarga pasien yang meninggal dunia ini tentang keadaannya semasa hidup, mereka menjelaskan, “Ia bekerja sebagai muadzdzin pada sebuah mesjid…

Seperti itulah kutipan yang tertulis di cover belakang buku ini. Dan kutipan itu jugalah yang kemudian menyentil rasa ingin tau-ku lebih banyak lagi tentang isi buku ini.

Beberapa bulan belakangan, aku dihadapi dengan beberapa kabar duka. Salah satunya kabar meninggalnya teman SMUku dulu. Aku terkejut bukan main. Dia masih sangat muda, menurutku. Belum genap setahun suaminya meninggal, menyusul pula dirinya. Putra semata wayangnya yang baru berusia 3 tahun akhirnya menjadi yatim piatu. Kematian memang mutlak urusan Tuhan. Tak ada yang tau kapan, di mana serta siapa yang akan terlebih dahulu menuju ke sana. Meski demikian, tak banyak juga dari kita yang berlomba-lomba mempersiapkan bekal ke sana. Termasuk diriku yang kerap lalai dan alpa mengingatNya. 

Membaca Kesaksian Seorang Dokter membuatku berpikir tentang kematian. Bagi sebahagian orang kematian ternyata bukanlah hal yang menakutkan.  Ada hal yang sangat indah di dalam peristiwa tersebut. Indah karena ternyata kematian justru dirindukan oleh mereka yang ingin bertemu dengan Sang Penciptanya. Bukankah bisa bertemu dengan yang dirindukan adalah moment yang sangat indah? Bahkan untuk beberapa orang, mereka tak kuasa menggambarkan kegembiraan ketika bisa bertemu dengan yang dirindukannya. Di buku ini penulisnya, Dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair, seorang dokter spesialis bedah dan jantung di Riyadh berbagi pengalaman tentang hal itu. 

Jika ditanya, aku sendiri masih takut dengan kematian. Aku takut karena aku merasa belum siap menuju ke sana. Aku takut dengan segala konsekuensi yang harus aku terima akibat dari apa yang aku lakukan selama hidupku. Aku pikir apa yang aku rasakan normal. Alhamdulillah di buku ini aku kemudian seperti diingatkan kembali. Cukuplah kematian sebagai peringatan (hal 37). Penulis mencoba mengingatkan aku untuk selalu introspeksi diri. Kalau memang takut, persiapkan semuanya dengan baik. Lebih kurang seperti itulah pesan yang aku tangkap. 

Begitu banyak pengalaman penulis ketika berhadapan dengan orang-orang yang mati dalam keadaan husnul khatimah, dan itu semua sebanding dengan ketaatan mereka kepada Allah selama di dunia. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah meninggalkan shalat, yang selalu membaca Al-quran, menjaga lisan mereka dari perkataan-perkataan kotor dan menjaga hati mereka dari prasangka. Aku belajar dari kisah mereka. 

Selain pengalaman tersebut di atas, penulis juga mengingatkan bahwa pemilik obat atas sakit yang diderita manusia adalah Allah swt. Siapapun yang sedang berjuang melawan sakit yang dideritanya dengan berobat ke rumah sakit dan berkonsultasi dengan dokter hendaknya tak lupa juga memperbanyak doa kepada Allah. Karena dokter hanyalah perantara, sedang yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan tetaplah Allah yang Maha Segala-galanya. 

Seperti kisah seorang ibu dari pasien bayi laki-laki yang belum genap berumur dua tahun. Setelah mengalami operasi, bayi tersebut mengalami pendarahan yang bisa berakibat pada proses kerja jantungnya. Reaksi ibunya? “Cukuplah Allah untukku, dan Dia sebaik-baik Pelindung. Ya Allah, sembuhkanlah ia jika kesembuhan adalah yang terbaik untuknya” Kemudian dia pergi melihat bayinya sambil membacakan Al-Quran. Alhamdulillah, dengan izin Alalh kondisi bayi tersebut membaik (Obat yang terlupakan, hal 62). Entah bagaimana jika aku yang berada di posisi si Ibu.  

Sebuah pengalaman yang luar biasa yang tidak semua orang bisa mengalaminya. Semoga tiap kisah di buku ini menjadi pengingat bahwa tujuan akhir dari kehidupan ini adalah kematian. Sehingga masing-masing kita mulai berlomba-lomba untuk mempersiapkan bekal menuju ke sana.

10 komentar:

  1. subhaanallaah..Maha Suci Allah

    BalasHapus
  2. jujur sampai sekarang gue gak berani baca buku tentang kematian*Takut

    BalasHapus
  3. wah tema buku ini berbeda dari buku2 yang pernah aku baca sebelumnya.
    dan membaca reviewnya sptnya menarik sekali isi buku ini ya?

    BalasHapus
  4. waduh, mendin gak baca ah...Hahaha....

    Posted : Mas ihsan blog's

    BalasHapus
  5. Buku bagus yang bisa mengingatkan kita bahwa kematian itu bisa datang sewaktu waktu, mati tua pantes, mati muda juga pantes. idza ja'a ajaluhum, la yastakhiruna saatan walayastaqdimun. Semoga kita termasuk orang yangg sudah mempersiapkan diri jika ajal sewaktu2 menjemput kita

    BalasHapus
  6. merinding...

    kadang kita malah menuhankan yg lain selainNYA, pun bergantung pada yang lain selainNYA...Astaghfirullah

    BalasHapus
  7. sesuatu yg hidup pasti akan mati. thx sudah di review bukunya. jd penasaran utk beli

    BalasHapus
  8. buku bagus ya mbak.. adem rasanya jika membacanya :)

    BalasHapus
  9. buku bagus lagi nih :D

    maaf ya masih belum sempat bikin posting ttg kopdar kmrn :D

    BalasHapus
  10. sangat menarik review bukunya, saya membayangkan seandainya dokter-dokter di Indonesia juga selalu lebih mementingkan jiwa sosial untuk menolong sesama hamba ALLAH, maka tentunya akan banyak juga kisah-kisah spirituil yang mereka alami dan bisa dijadikan buku...salam :-)

    BalasHapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^