Sabtu, Desember 19

Sang Pemimpi on the Movie


Akhirnya aku nonton juga film Sang Pemimpi yang diadopsi dari novel fenomenal kedua Andrea Hirata tadi. Awalnya pengen nonton di Binjai, secara tiket cuma Rp 12.500, tapi karena kali ini bareng Muten, nontonnya jadi di studio 21 Grand Palladium, Medan. Kocek yang keluarpun seharga 4 tiket di Binjai.... Muten sempat minta nonton di Binjai, belum tau dianya kalau film2 baru di Binjai rada telat gitu, makanya harga tiket gak kaya studio 21 laennya...hehehe

Bagi penggemar dan pencinta novel tetralogi laskar pelangi, film Sang Pemimpi pasti sangat dinantikan. Semua penasaran bagaimana kisah Ikal dan Arai dalam novel tersebut disajikan dalam bentuk layar lebar. Aku sendiri memberi 2 jempol untuk novel keduanya tersebut, luar biasa, haru, sedih, lucu semuanya bercampur jadi satu. Sebuah cerita yang member inspirasi, bisa memotivasi, ada banyak hikmah di dalamnya. Kisah anak2 miskin yang punya cita2 yang luar biasa. Bukan tentang cita2nya yang tidak mungkin yang kemudian membuat kisah ini menarik, tapi bagaimana cara mereka berusaha mati2an untuk mencapainya.


Kembali ke filmnya, pasti ada perbedaan pada sebuah cerita ketika disajikan dalam bentuk 2 versi yang berbeda, novel dan layar lebar. Pengalaman menonton laskar Pelangi, aku juga menemukan hal2 menarik yang aku baca dinovel dan benar2 membuat aku menahan nafas, degup jantung ku yang tiba2 berdetak lebih cepat, mataku yang kemudian berkaca2 dan pada akhirnya aku menangis justru tidak kutemukan di filmnya. Kecewa…

Secara keseluruhan film ini sudah bagus, setting tempat yang menggambarkan wilayah pulau Belitung dengan batu2 raksasa pada pantainya, bahasa daerah yang sangat kental, ditambah kisah tiga sahabat Ikal, Arai dan Jimbron yang penuh sensasi… sudah cukup untuk mengatakan film ini bagus. Aku menitikkan air mata ketika melihat adegan Ikal yang memeluk Ayahnya saat nilai raportnya jatuh. Tidak ada dialog di sana, para aktor hanya menggunakan bahasa tubuh, tapi itu sangat luar biasa… Pesan moralnya sangat mengena, penyesalan dan maaf.

Lalu apa yang membuat kecewa? Akhir ceritanya. Dari novelnya aku ketahui bahwa Arai dimalam hari setelah menerima surat pemberitahuan beasiswa tersebut, ba’da maghrib Arai memeluk photo orangtuanya beserta surat itu. Dia belum membukanya. Sementara Ikal membua surat tersebut didampingi orangtuanya. Ikal mendapati Arai sesegukan menangis sambil memeluk photo kedua orangtuanya sambil berkata “aku lulus…”

Dan pada saat itulah ada sensasi yang berbeda, bulu kudukku setiap mengingat itu bergidik, aku merinding… Manusia punya rencana tapi Allah yang menentukan. Dan rencana mereka, mimpi2 mereka benar2 dipeluk Tuhan, sungguh besar kuasaNya. Ketika Ikal meraih surat pemberitahuan beasiswa itu dari Arai, dia melihat bahwa Arai diterima di Univeritas yang sama dgn dirinya…Univesite de Paris, Sorbonne, Prancis...

Tapi akhir cerita yang luar biasa itu tidak aku temukan pada filmnya. Meski tetap sama… Akhir yang sangat mengharukan, tetapi sensasinya lain. Kok jadi gini ya… :)
Well, meski dengan perubahan seperti itu,menurut aku film ini secara keseluruhan sudah cukup bagus. Yang penting pesan moralnya ‘kena’ banget. Buat yang belum nonton…buruan…

2 komentar:

  1. keren filmnya..sangat memberikan inspirasi..:D

    jng lupa mampir

    BalasHapus
  2. aku dah nonton filmnya nih,, jujur emang bagus, tapi lebih jujur lagi kalau sang pemimpi ngak sebagus laskar pelangi zha,, walaupun dari segi novel sang pemimpi lebih berbobot dibangdingkan laskar pelangi. Tapi yang jelas salut buat pemeran Arai, cocok banget dengan karakter dari novelnya

    BalasHapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^