Rabu, Mei 6

Ketika Aku dan Kamu menjadi Kita

Hai..hai...hai… Assalamu’alaikum Sudah berapa lama ya tidak muncul? Ada yang kangen? Ada yang kangen? Siapa yang kangen, unjuk gigi….Hahahaha…

Ehm.. ehm…Sorry deh kalo terlalu over narsis…*uhuk*

Baiklah, untuk postingan pembuka setelah sekian lama menghilang, aku pengen berbagi cerita bahagiaaa… Hahahaha iyaaa, bahagiaaa *kasi senyum paling manis*

Apa itu?

Aku sudah menikah… Iya bener! Ampuunnn serius beneran! Gak percaya banget siih… 
Alhamdulillah…

Ceritanya,  Sabtu, 14 Maret 2015 (ba’da isya) proses ijab qabul berlangsung antara Abah dan Mas Dy di depan petugas KUA dan disaksikan oleh beberpa tamu undangan. Seperti mimpi, senang plus haru, dan pada saat itu masih gak percaya kalau aku mendengar bagaimana qabul terucap dari lisan Mas Dy. “Eehh… beneran nih? Tetiba udah dengar kata-kata saaaahhh aja…hihihihi” 

Sejujurnya, ketika ijab dan qabul selesai diikrarkan dan doa-doa dipanjatkan untuk kami, rasa haru membuncah. Kepengen nangis, tapi udah diwanti-wanti jangan sampai nangis, ntar make-upnya belepotan *tepokjidat*. 


Resmi sudah diriku menyandang gelar seorang "istri". Lepas sudah tanggung jawab atas diriku yang selama ini dipikul Abah. Berganti menjadi tanggung jawab  Mas Dy, yang sejak saat itu resmi menjadi suamiku. Seorang pria yang ikhlas dan bersedia mengambil alih amanah itu dari Abah. Pria yang selama ini aku tunggu-tunggu kehadirannya. Pria yang selalu ada dalam do’aku. Pria yang awalnya aku gak tau siapa tapi selalu aku pikirkan. Dalam do’a aku selalu minta agar Allah bersedia mempertemukanku dengannya. Pada akhirnya Allah menjawab semua doa-doaku. Dan semoga Allah juga berkenan mengijabah doa-doa yang dipanjatkan para tamu undangan malam itu, agar keluarga kami menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah…

Dan esok harinya, 15 Maret 2015 resepsi dilangsungkan. Persiapan menuju hari itu emang benar-benar bikin rempong dan menguras tenaga plus pikiran. Padahal kan ya, konsep wedding party yang diusung cukup sederhana. Jauuuhh lha dari konsep wedding para selebriti tanah air, hahahaha. Yaahh aku mah apa atuh 

Rebutan ayam di acara makan berhadapan

Abahku, adalah sosok yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat. Karena itu, resepsi pernikahan diawali dengan serangkaian acara adat dari budaya Melayu (Abahku suku melayu). Jadilah ada acara berbalas pantun, tari persembahan, pencak silat, tempung tawar, tukar tepak, dan makan hadap-hadapan. Untuk acara yang aku sebutin itu aja berlangsung sampai setengah hari… capek tapi senang. Bersyukur banget karena di saat aku menikah, aku masih memiliki Abah dan Mamak yang ikut menyaksikan hari bahagia putri semata wayangnya.


Untuk kostum pernikahan, selain busana melayu mewakili kebudayaan Abah, aku juga meminta busana adat Jawa (mewakili kebudayaan Mas Dy yang suku Jawa) dan busana adat Aceh (mewakili kebudayaan Mamakku yang suku Aceh). Rame yaa?? Keluarga besar kami benar-benar bhineka tunggal ika 


Honeymoon

Bulan madu adalah salah satu agenda pengantin baru berikutnya. Dan untuk bulan madu kami, aku dan Mas Dy memutuskan untuk tidak kemana-mana. Haizzzz… Ini karena Mas Dy hanya dapat cuti beberapa hari saja. Jadilah agenda kami setelah resepsi memenuhi undangan sanak famili untuk acara non formal seperti makan siang atau makan malam bersama. Selebihnya hanya jalan-jalan yang dekat-dekat aja. Meski begitu, I’ve to tell you… I was so happy and always happy  

2 komentar:

  1. Zasachi.....Selamat ya
    Smg menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Waramah dan segera mendapatkan anak yg sholeh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... makasih mbak Sukma :)

      Hapus

Tinggalin komentar kamu di sini ^^