Kamis, Juli 29

Kambing Congek (Naskah Gagal Audisi Buku Crazy Moment)

Akhirnya kemaren 27 Juli,Leutika Publisher mengeluarkan pengumuman para pemenang Audisi Penulis Buku Crazy Moment (event penulisan buku bareng yang diadakan Leutika di facebook). Dan ternyata... aku tidak menang http://www.smileycodes.info Yah, berbesar hatilah, secara yang ikutan sampe 388 orang peserta dan hanya 50 peserta saja yang naskahnya keren yang bakal dibukukan sama Leutika http://www.smileycodes.info

Dan tadi pagi Leutika sudah mengumumkan bahwa naskah yang kalah dikembalikan, artinya para peserta boleh menuliskannya di notes facebook atau di blog masing-masing http://www.smileycodes.info

Dan ini dia naskahku yang gagal itu:

KAMBING CONGEK


Kalau ngomongin hal paling memalukan dan paling ‘crazy’ yang pernah aku lakukan, maka pengalamanku belasan tahun lalulah yang pertama kali terlintas menerobos ribuan file-file yang tersimpan di memori kepalaku. Setiap mengingatnya aku jadi tersenyum malu. Sebuah hal memalukan yang pernah aku lakukan ketika aku menimba ilmu di sebuah pondok pesantren di Medan.
***

“Za…” Aku menoleh pada suara yang memanggilku. Wajah oriental Indah muncul di balik pintu kelas 2C.

“Apa?” Tanyaku singkat.
Ku lihat dia masuk kemudian duduk di sampingku. Waktu itu malam hari ba’da Isya. Sudah menjadi rutinitas kami para penghuni pondok setiap malam ba’da Isya kecuali malam minggu, harus kembali ke ruangan kelas untuk belajar. Terserah apakah itu untuk mengerjakan PR, berdiskusi, atau yang lebih ringan membaca majalah-majalah islami, pokoke harus berada di dalam ruangan kelas. “Haram” hukumnya berada di dalam asrama kecuali kondisi memang tidak memungkinkan alias sakit. Dan malam minggu akan menjadi malam yang sangat panjang, bukan karena it’s saturday nite, so what? Tapi karena kami punya program spesial yaitu “Muhadharoh”, sebuah acara unjuk bakat pamer gigi (halah lebay…!) mengekspresikan diri. Di sanalah kami unjuk kebolehan mulai dari pidato tiga bahasa (Indonesia, Arab dan Inggris), bernasyid, baca puisi dan terkadang bermain drama.

Kembali ke Kambing Congek!!

Indah terlihat gugup. Matanya melihat sekeliling ruangan. Aku jadi ikutan menyapu ruangan dengan sorot mataku, mencoba menangkap sesuatu yang aneh, tapi nihil. Semua santriyah serius dengan pekerjaan mereka. Belajar.

“Za, temanin ana dong..” Katanya kemudian nyaris berbisik. (ana = saya )

“Kemana?” Tanyaku penasaran.
Dia menarikku lebih dekat dan kemudian berbisik ke telingaku. Pssstt..ssttt..pssstt..blaa..blabla… Gubrak!!!

Aku kaget dengan permintaannya. Tau apa? Nemanin dia pacaran. Yang namanya pesantren peraturan mengenai hubungan beda lawan jenis sudah diatur sedemikian rapinya. Mulai pemondokan yang dipisah, ruangan belajar yang dipisah, kamar mandi apalagi, wajib hukumnya dipisah. Kalau sampai ketauan pacaran? Siap-siap aja deh dengan hukuman yang sangat memalukan, berdua digiring keliling asrama sambil memakai badge gede’ yang digantung di leher bertuliskan “mempelai wanita” dan “mempelai pria”. Nah, bukannya mau sombong tapi sebagai santriyah yang “lumayan” berprestasi (aku termasuk santriyah yang selalu dapat ranking 3 besar), namaku cukup bersihlah. Belum ada catatan hitamnya. Dan permintaan Indah ini berpeluang besar menorehkan catatan hitam buat namaku. Yang pacaran sih Indah, tapi yang nemanin aku. Bisa rusak susu sebelanga karena nila setitik. Aku menggeleng.

“Cuma sebentar, lagian piket kosong, gak ada ustaz…” Indah kembali membujukku. Dan entah setan bertanduk berapa yang saat itu nangkring di kepalaku, yang jelas setelah berpikir cepat gak pake lama, aku mengangguk.
***

Kami berjalan menuju dapur, dimana Guntur (pacarnya Indah, yang juga nyantri di situ) sedang menunggu. Malam itu memang sepi, ustaz yang biasanya mondar mandir melihat aktifitas belajar kami tidak ada, yang biasa nonton tv juga tidak kelihatan, ruangan piket kosong. Dan kediaman Bang Tambal, si juru koki, nyaris tanpa suara. Biasanya selalu terdengar suara anak-anaknya yang masih kecil. Bang Tambal dan keluarganya yang memasak untuk pesantren. Dulu tanpa sepengetahuannya kami suka plesetin namanya ke bentuk kata kerja dalam Bahasa Arab, biar lebih mudah menghapal perubahan kata kerja pada fi’il-fi’il yang ada.

“Tambalta-Tambaltumaa-Tambaltum… Tablati-tambaltumaa-Tambaltunna..tambaltu-Tambalna..” Iseng yang keterlaluan menurutku.

Kembali ke Kambing Congek…!!

Perlahan Indah membuka pintu dapur yang memisahkan ruangan di mana kami para santriyah mengambil menu makan dengan ruangan tempat memasak. Dan Guntur sudah berada di sana, di ruangan yang digunakan untuk memasak. Pada saat itu aku tau, bahwa Guntur ternyata tidak hanya mencatat petuah para ustaz yang selalu mengingatkan kami para santri dan santriyah “jangan berkhalwat dengan yang bukan muhrimmu, karena yang ketiganya adalah syaithan…” di atas buku catatan, tapi juga merekamnya di sini (sambil menunjuk kepala). Karena Guntur tidak datang sendirian, tapi dengan sejumlah pasukan yang nyaris membentuk kesebelasan hanya untuk menghindari khalwat.

“Tunggu di sini ya..” kata Indah padaku, dan aku hanya mengangguk.
Pintu kayu secara otomatis menutup lagi. Indah berada di ruangan memasak, dan aku tidak ikut masuk. Dan kenapa aku mau melakukan itu? Aku tidak tau kenapa. Aku duduk sendirian nungguin Indah pacaran, gak salah lagi aku resmi jadi kambing congeknya. Samar-samar aku mendengar suara mereka ngobrol, kemudian tertawa. Aku sendirian, Cuma ada tong-tong air, baskom-baskom gede yang menjadi wadah sayuran. Setiap mengingat itu aku malu, aku merasa jadi orang paling bego sedunia. Prestasiku gak ada artinya.Sungguh Ter-La-Lu!!!

“Ngiingggg…. Ngiiiuunnngggg…” plok tepuk sana, plok tepuk sini, ternyata nyamuk juga doyan di dapur. Nasib jadi si kambing congek. Tiba tiba aku mendengar langkah kaki yang berat menuju dapur, ada orang dating. Kiamat 12!! Belum sempat aku beranjak membuka pintu pembatas ruangan dan teriak “ada orang datang…”, nasib buruk!!! orang itu sudah muncul, istri Bang Tambal, tamatlah sudah.

Dia tersenyum, “Ngapain? Cari minum?” dia bertanya ramah, kalo setiap bagiin jatah makan, jarang banget dia mau senyum.

Aku yang memang jarang melakukan hal-hal illegal di pondok, hanya meringis, lututku saja sudah gemetaran, tanganku dingin. Aku tidak bisa berpura-pura wajar. Yang ada di kepalaku adalah prosesi kawin massal di mana Indah dan Guntur akan diarak dan aku juga ikutan diarak dengan badge di dada bertuliskan huruf super gede “SI KAMBING CONGEK, saksi mempelai wanita”. Aku menelan ludah, pahit. Karena aku cuma meringis, dia jadi curiga,

“Ngapain kau di sini, ha?” Logat bataknya keluar. Dan dia cepat melihat kearah pintu begitu mendengar ada suara-suara di balik pintu. Dia berjalan ke arah pintu dan sekali dorong…

“Ooohh..hebat kalian ya, sudah makin pintar aja kalian ku tengok. Berani kalian pacaran di sini yaa..” Sambil berkacak pinggang suaranya terdengar makin besar. Aku sudah tidak tahan lagi, dadaku sesak. Perlahan aku berjingkat. Satu… menarik nafas dalam-dalam, dua… mengumpulkan sisa tenaga yang ada, dan tiga… kabuuurrrrr… Aku berlalri meninggalkan Indah.

“Hey!! Jangan lari kau, ku bilang kau sama ummi Irfa ya..!!”

Aku tidak peduli, aku terus berlari menuju kelas. Semua mata jadi memandangku aneh penuh tanya, ada apa antara aku dan istri Bang Tambal? Aku mencoba menjawab dengan senyum, tapi aku tau kalau aku tidak tersenyum.

“Limadza?” (kenapa) Santriyah yang kaget dengan suara Istri Bang Tambal bertanya

“Maa fii” (tidak ada apa-apa) aku mencoba tersenyum.

Meski masih penasaran, tetapi suara teriakan istri Bang Tambal yang mereka dengar membuat mereka maklum, karena setiap mengambil jatah makan dia memang suka berteriak, kesimpulan mereka, istri Bang Tambal suka berteriak. Aku memilih duduk di bangku paling sudut di belakang sambil pura-pura membaca. Pikiranku kacau, entah apa yang terjadi pada Indah dan Guntur. Jangan-jangan mereka sudah digiring ke Baitul Abyadh (Rumah Putih, kediaman ustazah yang menjadi Ibu Asrama). Rasanya aku ingin menangis dan benar-benar menyesal. Allah tidak akan ridha dengan kejahatan, dan aku sudah jahat banget nemanin teman buat maksiat. Trus, aku tinggalin kabur lagi.

Tiba-tiba Indah muncul dengan berjalan santai ke ruangan kelas, tapi aku bisa membedakan wajahnya. Pucat. Dia duduk disampingku dan pura-pura membaca. Santriyah yang lain tidak memperhatikan kami, kembali disibukkan dengan tugas-tugas mereka.

“Aman, Za..” bisiknya sambil terus menatap buku

“Maksudnya?” Aku penasaran, balas berbisik.

“Ana gak tau apa yang dibahas Guntur sama Istri Bang Tambal, mereka berbicara dengan bahasa batak, yang jelas kata Guntur sudah terkondisikan…” kata Indah lagi

“Seharusnya anti (kamu) gak lari tadi..” Dia melanjutkan, sepertinya kesal karena aku tinggal kabur.

“Seharusnya ana gak mau jadi kambing congek…” Balasku. Dia tertawa tertahan. Hihihihi dan aku jadi tersenyum sambil menyikut pinggangnya dengan sikuku. Dalam hati aku berjanji tidak akan melakukan hal ‘bego’ itu lagi.
***

Kami masih duduk di bangku Tsanawiyah saat itu, baru duduk di kelas 2. Meski hampir setiap hari dijejali dengan pelajaran aqidah dan akhlak, aku merasa lucu setiap kali mengingatnya, ternyata kami lebih takut pada Istri Bang Tambal daripada dosa pada Allah.

SELESAI http://www.smileycodes.info

Well, ini baru awal. Leutika bakal tau kalo aku gak bakalan kapok http://www.smileycodes.info

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalin komentar kamu di sini ^^